Penyebab Banjir Jakarta, Kombinasi Faktor Alam dan Antropogenik

by
February 16th, 2015 at 9:08 am

CiriCara.com – Ibukota Jakarta, tak bisa lepas dari banjir. Banjir yang datang setiap musim penghujan tiba, seakan sudah jadi penyakit klasik Kota Jakarta. Namun sayang, meski sudah berbagai cara dan strategi dilakukan, penyakit banjir tak kunjung disembuhkan. Alhasil, warga Jakarta pun selalu cemas, ketika musim hujan tiba. Hujan turun mengguyur, alamat banjir bakal mengepung.

jakarta banjir

Banjir di Jakarta – Ist

Tentang banjir Jakarta, saya pernah mewawancarai Pak Sutopo Purwo Nugroho untuk keperluan buat berita. Pak Sutopo adalah Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Jadi ia adalah narasumber yang kompeten, karena bencana, termasuk banjir adalah menu sehari-harinya. Menurut Pak Sutopo, jika melihat fakta yang ada Jakarta masih sulit terbebas dari bencana banjir. Faktor alam, dalam hal ini musim hujan dan perubahan iklim jadi penyebab datangnya banjir. Tapi, yang tak boleh diabaikan adalah faktor lain kata Pak Sutopo, yakni faktor antropogenik. Bahkan menurutnya, faktor antropogenik saat ini telah menjadi faktor utama yang berperan menyebabkan banjir.

Padahal pada periode sebelum tahun 70-an, faktor alam jadi penyebab utama munculnya banjir. Tapi kini bergeser. Penyebab banjir kian komplek. Kombinasi antara faktor alam dengan antropogenik, menjadi penyebab datangnya banjir dengan skala dan intensitas yang makin mengkhawatirkan. Karena itulah, Pak Sutopo tak begitu yakin Jakarta akan bebas banjir sepenuhnya. Memang langkah antisipasi, bahkan pencegahan sudah banyak dilakukan, tapi karena faktor alam sudah berkombinasi dengan faktor antopogenik, segala ikhtiar yang dilakukan, selalu kalah cepat oleh banjir. Faktor antropogenik sendiri adalah untuk menerangkan, bahwa ulah manusia kerap jadi pemicu datangnya bencana.

Para pemangku kebijakan di Ibukota sendiri, baik yang sekarang sedang menjabat, maupun yang sudah lengser, telah melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan banjir. Tapi, hingga sekarang segala upaya tersebut belum membuahkan hasil maksimal. Banjir tetap datang bertandang ke setiap pojok ibukota, seperti yang terjadi pada Minggu, 8 Februari 2015 dan Senin, 9 Februari 2015.

Mengutip data yang dikeluarkan BNPB, lembaga tempat Pak Sutopo mengabdikan diri, hingga 2014, tercatat ada 78 titik banjir di Jakarta. Titik-titik banjir itu coba dikurangi dengan membangun Kanal Banjir Timur (KBT). Tapi, keberadaan KBT hanya mampu mengurangi 15 titik banjir. Normalisasi sungai di Kanal Banjir Barat meski itu sangat diperlukan, namun belum bisa jadi andalan untuk menghilangkan ‘serbuan’ banjir. Normalisasi sungai di Kanal Banjir Barat, hanya mengurangi 6 titik banjir. Pun normalisasi Sungai Pesanggrahan, hanya bisa mengurangi 10 titik banjir.

Pemerintah Daerah Ibukota Jakarta juga coba kurangi banjir lewat proyek Jakarta Emergency Dredging Initiative di Cengkareng Drain, Kali Sunter, KBB, Cideng, Angke dan lainnya. Proyek ini pun hanya mampu mengurangi 20 titik banjir. Jadi, masih ada 27 titik banjir yang belum disentuh. Sementara sangat mungkin, titik banjir justru bertambah.

Dan, kalau melihat apa yang terjadi di lapangan, dimana wilayah Thamrin, Sudirman dan Gatot Subroto begitu gampangnya dilanda banjir seperti yang terjadi pada hari Minggu dan Senin kemarin menunjukan titik banjir kemungkinan besar bertambah. Karena mengutip keterangan BNPB, area Thamrin, Sudirman dan Gatot Subroto tak termasuk dari 78 titik banjir yang selama ini sudah dipetakan. Artinya, titik banjir di ibukota telah bertambah.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini