Tragedi Banjir Bandang yang Terus Berulang

by
February 16th, 2015 at 11:34 am

CiriCara.com – Karena bencana, negeri ini banyak di dera kerugian. Kerugian tak hanya menyangkut harta atau rusaknya fasilitas publik. Tapi karena bencana pula, air mata tertumpah. Banyak bencana yang menelan korban jiwa. Mereka jadi korban sia-sia, karena amuk alam, yang terkadang itu datang karena kita tak lagi arif memandang dan memberlakukan alam. Ulah manusia, tak bisa dilepaskan dari bencana.

banjir bandang di manado

Banjir bandang – Ist

Cerita ulah manusia yang mengundang bala bencana, sudah banyak contohnya di negeri ini. Hutan di babat habis. Bukit di gunduli. Banjir pun datang tak bisa dihadang. Bahkan yang datang tak hanya genangan, tapi gelombang air bandang yang menghembalang. Di negeri ini, banjir bandang berkali terjadi. Tak hanya sekali. Berkali pula negeri ini mesti menundukkan kepala, berduka dan mengurai air mata duku. Nyawa anak bangsa terenggut. Mereka pergi, kadang karena ulah kita sendiri yang tak arif bahkan ‘durhaka’ pada alam.

Pada 2003, kabar duka mendalam datang dari Sumatera Utara. Di Desa Bukit Lawang Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, tragedi terjadi. Sungai Bahorok, dikabarkan ‘murka’ memuntahkan gelombang menggulung apa saja. Banjir bandang pun menghembalang. Korban nyawa pun berjatuhan. Tercatat 100 orang meninggal karena tragedi itu. Namun yang membuat dada sesak, banjir datang karena ulah pembalak. Hutan di hulu sungai di babat. Akibatnya sungai pun jadi renta, tak mampu lagi menampung tumpahan air.

Tragedi Bahorok, ternyata bukan yang pertama. Karena pada 2010, tepatnya pada 4 Oktober 2010. Tragedi serupa pernah terjadi. Kota Wasior di Kabupaten Teluk Wondama, di luluh lantakan terjangan gelombang banjir bandang di awal Oktober itu. Terjangan banjir membawa serta batu, lumpur dan gelondongan kayu. Tragedi itu pun menyisakan duka, ratusan nyawa dinyatakan telah jadi korbannya. Wasior pun bak kota mati, luluh lantak diamuk gelombang banjir. Bumi pertiwi pun berduka. Air mata bangsa tertumpah.

Belum juga air mata duka mengering, pada 13 November 2013, kembali Wasior diterjang banjir. Distrik Wasior, Wondiboy dan Rasie, dikabarkan di hajar banjir. Meski tak sebesar banjir pada awal Oktober 2010, tapi banjir pada 13 November
2013, tetap menyisakan duka. Korban nyawa berjatuhan, walau tak sebanyak pada tragedi pertama. Kembali ibu pertiwa belasungkawa.

Pada 2011, tepatnya 10 Maret 2011, tragedi karena banjir terjadi di Tangse, Pidie Aceh. Banjir yang membawa gelondongan kayu, menerjang kawasan Tangse Pidie. Tercatat 24 orang tewas karena terjangan banjir tersebut. Seperti beruntun, pada 13 September 2012, banjir bandang kembali terjadi. Kali ini banjir bandang menerjang Kota Padang, Sumatera Barat. Empat orang dikabarkan meninggal. Duka karena banjir bandang kembali terjadi pada 8 November 2012. Kali ini banjir menerjang sebuah kawasan di Sulawesi Barat. Dua sungai di Sulawesi Barat, sungai Kalangai dan Uru murka, meluap gelombang air yang menerjang pemukiman di sana. Desa Batanguru Timur, di Kecamatan Sumarorong, Mamasa menjadi daerah yang paling parah kena terjangan banjir. Tercatat 10 orang meninggal.

Pertengahan Januari 2014, tepatnya 15 Januari 2014, negeri ini kembali berduka setelah dikabarkan Kota Manado di luluh lantakan terjangan banjir bandang. Banjir bandang yang menerjang Manado menurut beberapa saksi mata yang selamat datang seperti tsunami kecil, menerjang dan menggulung apa saja yang dilewatinya. Saking kuatnya, banjir sanggup menjungkir balikan mobil dan menyeretnya. Badan bencana melaporkan 24 orang orang meninggal.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini