Duh, Ibukota Indonesia, Kota Paling Tak Aman di Dunia

by
February 17th, 2015 at 3:49 pm

CiriCara.comBegal motor merajalela. Aksi premanisme masih marak. Penodongan, penjambretan, hingga perampokan, masih banyak terjadi. Itulah fakta-fakta yang sering kita dengar, kita lihat dan kita baca dari berita radio, televisi, koran dan media online tentang Jakarta. Pendek kata, Jakarta, belum jadi kota yang aman, karena tingkat kejahatan masih tinggi. Belum lagi ditambah macet dan banjir. Maka Jakarta kian terasa tak ramah lagi.

jakarta

Keramaian di Kota Jakarta – Ist

Koran Kompas Edisi Senin 2 Februari 2015 dalam tajuk rencananya menuliskan tentang status Jakarta, ibukota negara sebagai kota paling tak aman di dunia. Duh, itu status yang bikin kita mengurut dada. Bagamana tak mengurut dada, ibukota adalah etalase pertama dan utama bagi orang luar untuk melihat Indonesia. Ibukota tak aman, boleh jadi mereka dengan gampangnya akan menilai, Indonesia pun tak aman.

Status kota paling tak aman itu menurut Kompas, merujuk pada hasil survei The Economist Intelligence Unit yang dirilis tahun ini (2015). Dari 50 kota yang disurvei The Economist, Jakarta adalah kota yang paling tak aman. Jakarta, ibukota negara Indonesia menurut hasil survei The Economist, berada di urutan buncit, alias ada di urutan 50 dari 50 kota yang disurvei.

Sementara kota teraman di dunia, menurut hasil sigi The economist adalah Tokyo, ibukota Jepang. Di urutan dua sebagai kota teraman versi survei The Economist adalah Singapura. Kemudian disusul Kota Osaka (Jepang). Menurut survei The Economist, Jakarta bahkan masih kalah oleh Teheran (Iran), Ho Chi Minh City (Ibukota Vietnam) dan Johanesburg (Ibukota Afrika Selatan), dalam soal keamanan kota. Teheran misalnya berada di urutan 49 dari 50 kota yang disurvei The Economist. Sementara Ho Chi Minh City bertengger di urutan 48 dan Johanesburg berada di posisi 47 dari total 50 kota yang diteliti The Economist. Dan, Jakartalah yang berada diurutan paling bawah, alias berada di dasar klasmen kota-kota teraman di dunia.

Jika di dunia sepakbola, dengan berada di urutan buncit klasmen liga, maka Jakarta terpaksa harus kena degradasi alias mesti turun pangkat dari liga utama ke divisi I. Sungguh fakta yang menyedihkan. Dan ini harus jadi bahan evaluasi dan intropeksi bagi para pemangku kebijakan di ibukota, baik itu Gubernur DKI Jakarta maupun Kepala Kepolisian dan Panglima Kodam di ibukota.
Karena bila suatu kota sudah dicap tak aman, orang pun akan segan berkunjung. Padahal Jakarta di bawah kepemimpin Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat, tengah gencar-gencarnya menggenjot sektor pariwisata di ibukota. Ahok dan Djarot bertekad menjadikan Jakarta, selain sebagai pusat bisnis juga sebagai tujuan wisata utama di Indonesia. Sementara salah satu syarat destinasi wisata layak dikunjungi adalah masalah keamanan.

Semakin aman sebuah tujuan wisata, semakin banyak turis yang datang menyambangi. Sebab jika kota aman, turis pun akan nyaman. Tapi bila tujuan wisata tak aman, banyak terjadi tindak kriminal, turis pun mungkin akan berpikir ulang untuk datang. Yang pasti status kota tak aman membuat citra Jakarta sebagai ibukota tercoreng. Wajah Indonesia pun ikut tercoreng, karena ibukota bisa dikatakan etalase utama Indonesia.

Melihat dan menilai Jakarta, sama dengan melihat Indonesia. Ibukota adalah barometer sebuah negera. Bila ibukotanya saja dinilai tak aman, orang luar akan gampang memvonis Indonesia pun juga tak aman. Padahal itu penilaian yang menyederhanakan fakta. Sebab masih banyak kota di Indonesia yang aman.

Namun yang pasti hasil survei The Economist harus jadi cambuk bagi Gubernur Jakarta, Basuki Tjahja Purnama dan Kapolda Metro Jaya merubah penilaian miring tersebut. Buktikan pada dunia, bahwa di kemudian hari Jakarta akan jadi kota teraman di dunia. Ayo buktikan Pak Gubernur, Pak Kapolda, bahwa anda bisa merubah itu.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini