Warga Pun Kini Bisa Jadi Reporter

by
February 17th, 2015 at 8:15 am

CiriCara.com – Jurnalisme warga mendapat momentumnya setelah ‘runtuhnya’ puncak piramida rezim Orde Baru yang ditandai dengan lengsernya Soeharto sebagai Presiden RI yang telah berkuasa selama 32 tahun lamanya. Rezim Orde Baru, selama berkuasa tak memberi ruang bebas bagi pers. Kebebasan bersuara dan berekpresi di batasi. Bahkan warga negara dibuat takut untuk sekedar meluapkan aspirasinya. Mengkritik pemerintah dianggap sebuah kesalahan.

Belanja online / Ist

Belanja online / Ist

Warga pun takut dan memilih tiarap, daripada nanti berurusan dengan aparat. Media yang terlalu kritis pada pemerintah, tak ada ampun langsung kena bredel (dilarang terbit). Majalah Tempo, deTIK, dan Editor adalah beberapa media yang pernah merasakan pahitnya pembredelan. Mereka dibungkam, karena terlalu kritis menulis berita.

Tapi setelah Soeharto turun, kran kebebasan dibuka lebar. Insan pers tak lagi takut-takut mengkritik pemerintah, yang dulu dianggap tabu. Tidak hanya itu, jumlah media dengan segala format melonjak tajam. Dari yang hanya hitungan jari, naik tajam hingga puluhan bahkan ratusan media. Namun yang paling menarik dari dibukanya kran kebebasan bersuara, munculnya ragam saluran bagi warga untuk ikut menyuarakan aspirasi serta pendapatnya. Ya, di era setelah Soeharto ‘tumbang’, muncul fenomena baru yakni fenomena jurnalisme warga atau istilah kerennya citizen journalism.

Warga kini bisa jadi reporter dadakan. Mereka bisa menulis dan melaporkan berbagai peristiwa yang dilihat dan didengarnya layaknya seorang wartawan. Fenomena ini muncul salah satunya tak lepas dari berkah internet. Nyaris semua media mainstream menyediakan kanal bagi warga untuk melaporkan peristiwa yang di lihat serta didengarnya. Warga pun didaulat jadi reporter.

Grup Kompas misalnya memberi ruang bagi warga untuk bisa jadi ‘wartawan’ atau reporter dadakan dengan menyediakan Kompasiana.com sebagai ruang jurnalisme warga. Tak perlu kartu pers, tak wajib ikut pelatihan jurnalistik, siapa pun bisa menulis di Kompasiana.com, asal mendaftar di situs tersebut. Setelah mendaftar, warga pun bisa menulis apa saja, dengan batasan asal tak menyingung SARA.

Tidak hanya Kompas lewat Kompasiana.com-nya yang menyediakan ruang bagi warga untuk bersuara, tapi media-media lainnya pun ikut membuka kanal serupa. Okezone, Viva.co.id, Merdeka.com, Detik.com, Tribunnews, Tempo.co, dan beberapa portal berita lainnya punya kanal yang khusus disediakan bagi warga melaporkan sesuatu peristiwa atau mengungkap pendapat.

Bahkan kini hampir semua stasiun televisi juga menyediakan kanal khusus jurnalisme warga. Warga bisa mengirimkan rekaman video tentang sebuah peristiwa. Menariknya, dalam peristiwa yang sangat penting, justru gambar atau rekaman di dapat dari hasil ‘racikan’ warga, bukan dari hasil kerja reporter televisi. Peristiwa tsunami yang menerjang Aceh misalnya, gambar paling fenomenal tentang peristiwa itu yang ditayang televisi di buat oleh warga, bukan oleh reporter resmi stasiun teve.

Tidak hanya televisi yang memberi ruang bagi warga untuk jadi ‘jurnalis dadakan’. Stasiun-stasiun radio pun berlomba-lomba menyediakan sebuah saluran bagi warga melaporkan sebuah peristiwa. Siaran pun tak satu arah, tapi telah bersifat interaktif, karena warga juga diajak ikut aktif melaporkan. Jurnalisme warga pun kian dapat tempat.

Di luar itu, muncul situs-situs yang secara khusus mendaulat warga sebagai penulisnya. Contohnya adalah situs Kabariindonesia.com atau Ciricara.com yang memberikan kesempatan bagi siapa pun untuk jadi kontributornya. Gairah menulis pun menggeliat. Warga menyambutnya dengan antusias. Mereka kini tak lagi takut bersuara, karena sekarang tersedia berbagai kanal yang bisa dipilih untuk mengabarkan ide, gagasan dan pendapat atau melaporkan sebuah peristiwa.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini