Cara Mencegah Banjir dengan Kearifan Lokal

by
February 20th, 2015 at 10:05 am

CiriCara.com – Indonesia terdiri dari beragam budaya yang diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Semua itu merupakan akumulasi dari kesatuan diri manusia dengan lingkungannya. Jaman dulu belum ada teknologi sehingga aktivitas sehari-hari begitu bergantung dengan alam. Hubungan inilah yang membentuk pemikiran nenek moyang kita. Dengan sendirinya, mereka mencintai Bumi dan tidak merusaknya.

banjir

Banjir di Jakarta – Ist/Beritasatu

Bencana pun tidak dipandang sebagai lawan. Manusia pada masa lampau menyesuaikan diri dengan cara yang tidak merusak. Pola pikir tersebut merasuk dari aspek fisik seperti rumah dan pakaian adat maupun nonfisik seperti larangan adat, ritual syukur, cara bertani, dan sebagainya.

Sejatinya, ilmu leluhur terkait alam sudah diwariskan kepada kita. Perubahan jaman membuat banyak generasi yang tidak jeli dalam melihatnya. Jika sedikit demi sedikit kita terapkan, permukiman yang bebas banjir bisa terwujud. Nah, berikut kearifan nenek moyang dalam mencegah bencana tersebut.

Rumah Panggung

Bagi kamu yang tinggal di kawasan rawan bencana banjir, perhatikan bagaimana rumah adat di daerah tersebut. Biasanya, hunian berdiri lebih tinggi daripada lahan. Bangunan ini disebut Rumah Panggung karena memiliki tiang-tiang di bawah lantai pertamanya. Tingginya tergantung dari besarnya banjir pada masa itu.

Halaman Luas

Umumnya, rumah-rumah adat di Indonesia memiliki halaman yang luas. Selain menjadi ruang interaksi, bagian ini merupakan celah masuknya air ke dalam tanah. Bangunan tersebut juga memiliki pekarangan yang diisi dengan tanaman obat, tanaman hias, atau pepohonan. Tumbuhan-tumbuhan tersebut menyimpan air dan meningkatkan daya serap tanah.

Hutan Adat

Masyarakat terdahulu menetapkan hutan khusus yang merupakan milik bersama. Pepohonan di area ini tidak boleh ditebang. Penduduk hanya dapat mengambil buah atau beberapa bagian batang untuk obat-obatan. Kawasan inilah yang mencegah banjir di permukiman.

Ritual

Prosesi adat ini patut dilestarikan. Upacara atau pesta syukur dapat meningkatkan kesadaran manusia akan hubungannya dengan alam. Dengan begitu, kita akan semakin mencintai anugerah Tuhan tersebut.

Mitos

Beberapa daerah memiliki kepercayaan bahwa memasuki hutan tertentu bisa terkena kutukan atau diculik makhluk gaib. Ada juga mitos larangan mengambil tumbuhan tertentu.

Masa kini, sains sudah banyak berbicara. Namun, mekanisme tersebut tetap bisa kita ambil hikmahnya. Mitos tertentu mengajarkan agar kita tidak merusak hutan atau mengambil vegetasi langka.

Penulis: Ummu Solid

Comment di sini