Habis Banjir Terbitlah Penyakit

by
February 20th, 2015 at 1:12 pm

CiriCara.com – Banjir Jakarta, sejak Rabu 11 Februari 2015, mulai surut. Sebelumnya, ketika hujan mengguyur ibukota sejak Minggu, 8 Februari hingga Senin 9 Februari 2015 yang turun nyaris tanpa jeda, telah membuat hampir semua wilayah kota, mulai dari Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Pusat dan Jakarta Utara terendam banjir. Ribuan warga dari lima wilayah di ibukota yang terendam banjir terpaksa jadi pengungsi.

banjir

Posko Kesehatan Korban Banjir – Ist

Banyak anak-anak pun terpaksa tak bisa pergi sekolah. Apalagi bagi yang sekolahnya kena dampak banjir. Mereka terpaksa hidup di pengungsian. Mereka terpaksa tidur dengan alas alakadarnya yang penting terbebas dari deraan banjir dan hujan. Mereka rela berdesak-desakan. Bahkan untuk mandi dan buang air besar pun, mesti antri atau berebut. Untuk makan, mereka tergantung pada sumbangan. Karena banyak pula pengungsi yang tak sempat membawa bekal cukup. Bahkan ada yang hanya mengungsi dengan pakaian yang melekat di badannya, saking panik dan cepat ingin keluar dari sekapan banjir. Serba susah, serba darurat dan pastinya serba sulit, begitu kehidupan di tempat pengungsian.

Banjir surut, bukan berarti ‘derita’ ikut selesai. Pasca banjir, penyakit datang menyerang. Banjir yang datang, tak hanya membawa air dan lumpur. Tapi juga membawa serta bibit-bibit penyakit. Alhasil banyak pengungsi yang kemudian terserang beberapa penyakit yang biasa menjangkiti kala musim banjir. Setidaknya ada beberapa penyakit ‘khas’ banjir yang menjangkiti. Penyakit-penyakit itu antara lain diare, demam berdarah, leptospirosis, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit kulit, penyakit saluran cerna lain, dan perburukan penyakit kronik yang sebelumnya sudah diderita.

Diare adalah penyakit yang selalu muncul kala musim banjir. Penyakit ini terkait erat dengan kebersihan, baik kebersihan lingkungan, maupun kebersihan makanan dan minuman. Kala banjir, apalagi jika banjir datang dengan intensitas tinggi banyak sumber mata air tercemar. Belum lagi, lingkungan yang jadi buruk karena terjangan lumpur yang dibawa banjir. Dan, banyaknya pengungsi yang memenuhi tempat pengungsian, jadi ‘sasaran empuk’ serangan penyakit diare. Apalagi, bila fasilitas pengungsian terbatas. Diare pun potensial menjangkiti. Penularannya pun akan cepat merambat.

Penyakit DBD pun dianggap penyakit yang rutin datang menyerang disaat musim penghujan. Sebab, kala musim hujan banyak tercipta genangan yang jadi tempat nyaman bagi nyamuk aedes aegypti, nyamuk pembawa DBD. Apalagi saat banjir menerjang, dimana banyak sampah, seperti kaleng atau barang-barang yang bisa menampung air berserakan dimana-mana. Belum lagi genangan-genangan yang tercipta karena banjir. Nyamuk ‘DBD’ seakan mendapat ‘surganya’untuk berkembang biak.

Penyakit khas banjir lainnya adalah leptospirosis. Penyakit ini penyebabnya adalah bakteri yang disebut leptospira. Penyakit ini di tularkan oleh binatang, seperti tikus. Kotoran dan air kencing tikus, adalah media tular bagi penyakit leptospirosis. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga jadi penyakit yang banyak menyerang korban banjir. Gejalanya dapat dikenali berupa batuk dan demam. Biasanya disertai dengan sesak napas, nyeri dada dan lainnya. Penyakit lainnya yang sering banyak menyerang korban banjir adalah penyakit saluran cerna lain dan penyakit kulit. Penyakit demam tifoid juga banyak menjangkiti kala musim hujan dan banjir tiba. Jadi habis banjir, terbitlah penyakit.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini