Angka Genap, Nomor Keberuntungan Capres?

by
February 23rd, 2015 at 3:21 pm

CiriCara.com – Sebuah angka, tak sekedar angka. Bagi sebagian orang, angka punya makna. Bahkan, ada yang menganggap angka-angka tertentu sebagai angka keberuntungan. Dan, ada angka yang dianggap pengundang sial, atau angka sial. Angka 13 misalnya, oleh sebagian kalangan dianggap angka sial.

nomor urut

Pengambilan nomor urut Capres-Cawapres 2014 – Ist

Karena itu, banyak gedung bertingkat yang lantai gedungnya melebihi 13 tingkat, tak mencantumkan angka 13 dalam nomor lift-nya. Selalu saja, angka 13 di lewati dan coba disiasati dengan angka lain, misal angka 12A. Bila menemui gedung bertingkat dengan lift tanpa angka 13 padahal lantai gedung lebih dari 13 tingkat, hampir dipastikan sang pengelola gedung percaya akan mitos bahwa angka 13 adalah angka sial.

Namun memang ketika seseorang mendapat keuntungan, berkah atau kesuksesan, angka acapkali dipercaya sebagai pembawa tuah atau berkah tersebut. Terutama, ketika angka tersebut jadi nomor atau tanda pengenalnya. Misalnya kesuksesan David Beckham di Manchester United selalu dikaitkan dengan nomor punggung 7 yang dikenakannya selama bermain di klub berjuluk Setan Merah tersebut. Apalagi nomor punggung 7 tersebut juga pernah dipakai oleh Eric Cantona, salah seorang legenda di MU.

Tidak hanya di lapangan hijau, angka atau nomor dikaitkan dengan sebuah keberuntungan. Dalam panggung politik pun, nomor atau angka selalu dikait-kaitkan dengan sebuah keberuntungan politik. Terutama ketika menangguk sukses dalam sebuah kontestasi. Misalnya dalam pemilihan Presiden.

Pada 2004, untuk pertamakalinya Indonesia menggelar pemilihan Presiden secara langsung. Lima pasangan calon menjadi kontestannya. Lima pasangan tersebut adalah Megawati Soekarnoputri-KH Hasyim Muzadi, Wiranto-Solahuddin Wahid, Amien Rais-Siswono Yudhohusodo, Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dan Hamzah Haz-Agum Gumelar. Pada hari Minggu 23 Mei 2004, pukul 19.30 WIB di Gedung Utama KPU, Jalan Imam Bonjol Jakarta, diundi nomor urut masing-masing pasangan calon yang akan dipakai para kontestan sebagai nomor pengenal mereka.

Setelah diundi oleh KPU, selaku penyelenggara pemilihan, pasangan Wiranto-Solahuddin, mendapat nomor urut 1. Nomor urut 2 didapat pasangan Megawati -Hasyim Muzadi. Sementara Amien Rais-Siswono Yudhohusodo dapat nomor 3. Nomor urut 4 didapatkan duet Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Dan nomor urut terakhir, nomor urut 5 diberikan kepada pasangan Hamzah Haz-Agum Gumelar.

Sejarah pun kemudian mencatatkan pasangan nomor urut 4, yakni Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla keluar jadi pemenang, setelah diputaran dua mengalahkan duet Megawati-Hasyim Muzadi. Banyak kemudian para pendukung Yudhoyono, menganggap, angka genap nomor empat (4) sebagai angka pembawa berkah kemenangan.

Pada 2009, Yudhoyono kembali maju dalam pemilihan presiden. Kali ini, Yudhoyono yang berstatus petahana maju bersama Boediono, tak lagi menggandeng Jusuf Kalla, sebagai kawan duetnya. Sementara Jusuf Kalla maju bersama Wiranto. Satu pasangan lagi yang ikut bertarung adalah Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto.

Pada Sabtu 30 Mei 2009, KPU mengundang semua pasangan calon untuk mengikuti pengundian nomor urut. Setelah diundi, pasangan Mega-Prabowo mendapat nomor urut 1. Sementara nomor urut 2 didapat pasangan Yudhoyono-Boediono. Sedangkan nomor urut 3, didapatkan Jusuf Kalla-Wiranto. Kembali Yudhoyono yang berpasangan dengan Boediono jadi pemenang. Nomor urut 2, angka genap yang didapat Yudhoyono kembali membawa keberuntungan. Yudhoyono pun kembali jadi Presiden untuk keduakalinya.

Tahun 2014, bangsa Indonesia kembali melaksanakan pesta demokrasi. Dua pemilihan di gelar di tahun itu, yakni pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Pada pemilihan presiden, dua pasangan calon bersaing memperebutkan ‘tiket’ ke Istana. Dua pasangan itu adalah Prabowo-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Sebelum keduanya maju gelanggang kampanye, KPU kembali mengundi nomor urut pasangan calon. Hari Minggu 1 Juni 2014, prosesi pengundian nomor urut dilangsungkan. Hasilnya, pasangan Prabowo-Hatta mendapat nomor urut 1, sementara Joko Widodo-Jusuf Kalla mendapatkan nomor urut 2. Sejarah pun kembali mencatatkan angka genap jadi nomor yang membawa berkah.

Joko Widodo-Jusuf Kalla pemilik nomor urut 2, keluar sebagai pemenang. Banyak orang kemudian menyimpulkan, nomor ganjil adalah angka ‘sial’. Sementara angka genap, dianggap nomor pembawa ‘tuah’ kemenangan. Karena Yudhoyono ketika maju dalam pemilihan, baik pada 2004 maupun di 2009, nomor urut yang didapatkannya adalah angka genap. Begitu juga Joko Widodo, menang pemilihan presiden dengan nomor urut 2 yang notabene angka genap.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini