Fakta Miris, Negeri Agraris Pengimpor Pangan

by
February 23rd, 2015 at 8:30 am

CiriCara.com – Indonesia selain dikenal sebagai negara maritim juga dikenal dengan negeri agraris. Dari 200 juta lebih penduduknya, mayoritas berprofesi jadi petani. Jadi, sektor pertanian masih jadi sektor ‘andalan’ bagi sebagian besar penduduknya untuk mencari nafkah.

petani

Petani Indonesia – Ist

Namun banyak yang menganggap, pertanian meski jadi gantungan harapan bagi mayoritas penduduk tapi nasibnya seperti mati segan hidup tak mau. Atau dalam kata lain, sektor pertanian masih dianak tirikan. Sektor ini menurut para pakar dan pemerhati pertanian geliatnya kembang kempis alias tak menggembirakan. Padahal sektor ini jadi tumpuan nafkah mayoritas penduduk Indonesia. Profesi jadi petani pun kini bukan lagi jadi profesi favorit. Kian sedikit anak muda yang bercita-cita menjadi petani, karena profesi itu dianggap tak menjanjikan secara ekonomi. Profesi petani bukan profesi yang bisa diandalkan untuk menaikan status sosial. Maka, profesi petani pun makin sepi peminat.

Di samping itu juga memang lahan pertanian kian tergerus. Banyak sawah dan ladang yang kini beralih fungsi jadi kawasan industri dan perumahan. Maka, kian sempitlah ruang gerak para petani. Pertanian pun megap-megap. Padahal, negeri ini pernah jadi negara yang mampu berswasembada beras. Tapi pencapaian swasembada beras kini hanya menjadi jejak sejarah, karena Indonesia sekarang sudah tercatat sebagai negara pengimpor beras. Ironis memang berstatus negara agraris tapi Indonesia mengimpor beras.

Dan, ternyata tak hanya mengimpor beras, Indonesia pun jadi Negara pengimpor produk-produk pangan lainnya. Bisa dikatakan, Indonesia kini jadi pasar utama produk pangan dari negara lain. Berbagai komoditi pangan impor kini membanjiri Indonesia. Tentang ini, saya pernah membaca sebuah buku berjudul.

Buku ini saya dapatkan saat saya ditugaskan kantor meliput peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2015 yang diselenggarakaan di Kota Batam, Kepuluan Riau dari tanggal 5-9 Februari 2015. Di acara HPN, banyak kegiatan yang digelar salah satunya adalah acara bedah buku. Salah satu buku yang dibedah adalah buku berjudul,” Menyongsong Kepemimpinan Nasional Pro Rakyat : Maasuukan dan Harapan Masyarakat Media.” Saya mendapatkan buku itu di acara bedah buku. Panitia HPN, membagikan buku tersebut kepada peserta yang hadir di acara bedah buku. Cover buku bergambar wajah Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi). Buku ini berisikan kumpulan artikel dari kalangan media.

Salah satu artikel ditulis oleh Gunawan Jusuf. Artikel yang ditulis bos Sugar Group Companies yang juga pemilik Koran Jakarta berjudul Kemandirian Pangan Indonesia yang terintegrasi. Dalam artikelnya Gunawan Jusuf menuliskan bahwa saat ini mayoritas pangan di Indonesia masih tergantung pada impor. Gunawan pun merinci produk pangan apa saja yang masih tergantung impor. Kedelai misalnya tulis Gunawan, 70 persen masih impor. Gula juga demikian, sekitar 54 persen masih impor. Daging sapi juga sekitar 800 ribu ekor masih didatangkan dari negara lain.

Produk pangan lainnya yang masih tergantung impor adalah jagung dimana 11 persen masih impor, lalu beras juga 5 persen masih impor. Namun tulis Gunawan, yang paling fenomenal adalah gandum, dimana 100 persen kebutuhan gandum Indonesia di datangkan dari negara luar alias impor. Gunawan juga menuliskan total nilai impor pangan dan produk pertanian yang masuk ke Indonesia. Pada 2013 katanya, total impor pangan dan produk pertanian Indonesia mencapai 14,9 milyar dollar Amerika Serikat. Menurutnya, fakta tersebut sangat ironis. Sebagai negara agraris, tapi tiap hari warga di negeri ini mengkonsumsi produk pertanian impor. Secara langsung kata Gunawan, 250 juta rakyat Indonesia telah jadi konsumen bagi petani dari negara-negara eksportir. Fakta yang ironis, sekaligus bikin miris.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini