Bagaimana Pembangunan dapat Menyebabkan Banjir?

by
February 24th, 2015 at 2:18 pm

CiriCara.com – Pembangunan sering disebut sebagai penyebab banjir. Di samping itu, manusia juga membutuhkannya untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Bagaimana menggunakan sebuah lahan sebenarnya sudah diatur dalam undang-undang kemudian ditindaklanjuti dalam Peraturan Daerah. Semua itu dibuat berdasarkan kajian ilmiah pada dokumen perencanaan, yang mencakup kondisi fisik tanah dan air suatu wilayah serta nonfisik seperti perkembangan jumlah penduduk.

korban banjir

Banjir – Ist

Mekanisme Ijin Mendirikan Bangunan kemudian dilakukan. Selain untuk kepentingan penghuni dan sinkornisasi dengan pembangunan lainnya, peraturan tersebut memastikan keseimbangan lahan terbangun dan lahan resapan. Pembagian proporsi penggunaan lahan ini bertujuan untuk menghindari berbagai resiko fisik wilayah seperti banjir. Berbagai faktor bisa menyebabkan tujuan tersebut tidak dapat terpenuhi. Faktor-faktor itu bisa datang dari pemilik bangunan atau petugas perijinan yang “bermain”.

Lokasi

Sebuah dokumen perencanaan kadang sudah dibuat sesuai dengan perhitungan dan solusi yang semestinya. Namun, tidak begitu yang terjadi di lapangan. Banyak pihak yang melanggar aturan Ijin Mendirikan Bangunan.Contoh yang bisa kita lihat ialah permukiman liar atau permukiman kumuh. Bangunan yang tidak sesuai aturan ini sering muncul di pinggiran sungai. Perilaku penghuni dapat menyebabkan banyaknya sampah di badan air tersebut.

Setiap sungai memiliki Garis Sempadan (area yang tidak boleh didirikan bangunan) masing-masing sesuai dengan lebar dan kedalamannya. Bangunan di sempadan sungai mengurangi daya resap tanah terhadap air. Seharusnya, area pinggir badan air tersebut dijadikan Ruang Terbuka Hijau dengan berbagai pepohonan agar air dapat tersimpan ke dalamnya. Ini kemudian dapat mengurangi luapan sungai saat curah hujan sedang tinggi.

Halaman

Ada juga yang membuat gedung atau rumah dengan porsi luas yang tidak sesuai. Dalam bidang perencanaan kota, ada ketetapan persentase luas halaman yang harus disediakan. Peraturan ini dibuat agar selalu ada area resapan air dalam setiap lahan bangunan. Bagian ini disebut dengan Koefisien Dasar Hijau. Seperti namanya, ruang ini diharapkan untuk diisi dengan berbagai tanaman. Namun, kenyataannya, banyak pemilik yang tidak memenuhi aspek ini. Jika ada, ruang tersebut diperkeras  keseluruhan dengan aspal atau semen.

Tinggi

Tinggi bangunan juga berpengaruh dalam menjaga siklus air. Berbagai kota memiliki standar tinggi dan jumlah lantai yang berbeda tergantung dari sifat fisik tanah di wilayah tersebut. Jika sudah sampai pada batasnya, gedung tinggi bisa menurunkan permukaan tanah sehingga air laut atau banjir menggenang.

Penulis: Ummu Solid

Comment di sini