Bang Ali Pun Repot Mengurusi Banjir Jakarta

by
February 24th, 2015 at 11:19 am

CiriCara.com – Ketika banjir ‘besar’ melanda Jakarta, Senin 9 Februari 2015, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau biasa dipanggil Ahok, mencak-mencak. Penyebab mencak-mencaknya sang gubernur, karena banjir bisa menerobos Istana. Ahok geram, Istana yang notabene simbol dan salah satu objek vital negara dengan begitu gampangya dibobol maling. Kata Ahok, biang dari bobolnya Istana oleh banjir karena pompa-pompa penyedot air di Waduk Pluit tak berfungsi. Telunjuk Ahok langsung menunjuk ke PLN, perusahaan setrum milik negara sebagai biang kerok matinya pompa-pompa penyedot air di Waduk Pluit. Perusahaan setrum milik negara itu menurut Ahok, telah memutus jaringan listrik ke Waduk Pluit, hingga membuat pompa penyedot tak bisa bekerja.

ali sadikin

Sampul Buku tentang Ali Sadikin – Ist

Di tuding Ahok, PLN membela diri. Lewat Direktur Utamanya, Basir, perusahaan listrik itu berkilah terpaksa mematikan jaringan listrik karena mencegaah potensi warga kena setrum listrik. Agar tak jatuh korban karena sengatan listrik, jaringan setrum ke Waduk Pluit, terpaksa diputus. Ahok tetap tak terima. Hingga. Kemudian, kisah matinya pompa penyedot air di Waduk Pluit jadi polemik.

Namun bicara banjir, tak hanya Ahok yang dibikin pusing. Semua gubernur yang pernah berkuasa di ibukota dibuat repot oleh banjir rutin Jakarta. Bahkan, Ali Sadikin atau biasa disapa Bang Ali, gubernur legendaris Jakarta pun pernah dibuat repot oleh banjir ibukota. Cerita repotnya Bang Ali hadapi banjir ibukota saya baca dari buku tentang Bang Ali yang ditulis Ramadhan KH, salah seorang penulis spesialis riwayat hidup tokoh-tokoh terkenal di republik ini.

Dalam buku berjudul, “Ali Sadikin : Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi” yang saya baca itu, Bang Ali dengan gamblang mengisahkan kerepotannya saat harus menghadapi banjir yang datang ‘bertamu’ ke ibukota. Di salah satu artikel berjudul ” Mereka Yang Menangis Di Tengah Hujan” yang ada di buku itu, Bang Ali menuturkan kisahnya kala banjir datang menyambangi Jakarta.

Di artikel itu Bang Ali menuturkan kisahnya saat hujan turun mengguyur Jakarta. Dengan memakai jas hujan, topi dan bersepatu bot dari karet, Bang Ali keluar rumah dinas menerobos hujan menuju Pintu Air Manggarai. Di sana Bang Ali ikut nongkrong mengawasi kalau-kalau air meluap. Menurut Bang Ali mengeruk muara sungai, normalisasi sungai dan saluran, serta pembuatan waduk penampungan air dan pemasangan instalasi-instalasi pompa pembuangan air, hanya solusi jangka pendek. Hanya bisa menyelesaikan masalah banjir secara setempat, tapi tak bisa dijadikan solusi secara menyeluruh.

Di artikel itu, Bang Ali juga menyorot sistem drainase. Menurutnya ini harus jadi perhatian. Sistem drainase harus baik dan sempurna. Bila tidak, ancaman banjir akan selalu mengintai Jakarta sampai kapan pun. Namun dalam buku itu tak diceritakan Bang Ali mencak-mencak. Bang Ali hanya menceritakan, nongkrongin pintu air adalah kegiatan rutinnya ketika Jakarta diguyur hujan. Artinya, saat hujan mengguyur Jakarta, Bang Ali benar-benar ada di tengah lapangan. Benar-benar ikut menggigil kedinginan.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini