“Hook” Ahok untuk DPRD

by
March 2nd, 2015 at 11:11 am

CiriCara.com – “Lebih baik saya dipecat jadi Gubernur, daripada loloskan ‘anggaran siluman’, ” begitulah pernyataan tegas dan keras yang diucapkan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau biasa disapa Ahok tersebut, menanggapi digulirkannya hak angket yang ‘disponsori’ DPRD Ibukota.

basuki tjahaja purnama

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Ist

Ya, hubungan Ahok dengan kalangan parlemen Jakarta memang tengah memanas. Sampai kemudian para legislator di parlemen ibukota sepakat menggulirkan hak angket, sebuah hak politik yang dipunyai dewan untuk menyelidiki sebuah kebijakan strategis eksekutif. Adalah anggaran yang disebut Ahok, sebagai ‘anggaran siluman’ sebagai pemicu mendidihya hubungan Ahok dengan DPRD.

Ahok murka, setelah mengetahui, dalam rancangan anggaran Jakarta, masuk ‘belanja’ yang tak masuk akal. Tanpa tedeng aling-aling, Ahok pun membuka itu ke hadapan publik. Terkuaklah, cerita tentang pembelian satu unit UPS berharga milyaran rupiah. Serta cerita anggaran aneh bin ajaib lainnya. Telunjuk Ahok pun menunjukan dewan yang dianggapnya ‘menyusup’ dan mendesakan ‘titipan’ untuk masuk dalam rancangan anggaran yang disusun Pemprov DKI Jakarta.

Ahok merasa ditelikung. Padahal sudah ada e-budgeting yang sudah dibuat, sebagai instrumen untuk membantu penyusunan anggaran bisa lebih transparan. Namun, ia merasa heran, ‘patgulipat’ anggaran tetap lolos masuk ke rancangan anggaran. Merasa dituding, kalangan dewan pun berang dan balik menyerang Ahok. Awalnya hak interpelasi yang hendak digulirkan. Tapi Ahok bergeming, bahkan menantang para legislator Ibukota gulirkan itu. Ahok menyatakan tak takut di interpelasi.

Mungkin merasa ditantang, dewan pun menyambut ‘tantangan’ Ahok. Namun bukan interpelasi yang digulirkan, tapi hak angket yang disepakati. Maka, perseteruan Ahok dan parlemen ibukota pun memasuki babak baru, menjadi pertarungan politik. Tapi, Ahok tak jeri. Sampai kemudian keluar pernyataan keras dan lugas dari Ahok, memilih dipecat daripada ‘uang rakyat’ dipakai untuk belanja yang tak karuan.

Bak seorang senopati maju ke medan laga, Ahok pun melakukan ‘serangan balik’. Ia bawa segepok dokumen ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Salah seorang pimpinan KPK, Johan Budi SP, usai bertemu dengan Ahok, menyatakan bahwa dari laporan yang disampaikan orang nomor satu Jakarta ke komisi anti rasuah, ada indikasi tentang anggaran siluman. Tak hanya ke KPK, Ahok juga ‘mengadu’ ke Presiden Joko Widodo, mantan Gubernur Jakarta yang kini menjadi kepala negara. Kepada orang nomor satu di republik ini, Ahok mengadukan hal yang sama, seperti yang diadukannya ke KPK.

Seorang pengamat politik via BBM, kepada saya mengatakan, ‘serangan’ Ahok melapor ke KPK dan Presiden, seperti seorang petinju yang sudah tak ragu lagi melepaskan pukulan hook-nya yang mematikan. Dalam dunia tinju, pukulan hook adalah pukulan yang ‘mematikan’. Pukulan hook bisa menggunakan tangan kiri dan kanan. Mike Tyson, Ellyas Pical, adalah dua petinju yang sangat ditakuti karena pukulan hook-nya yang mematikan.

Maka, bila kemudian KPK, bisa membongkar ‘anggaran siluman’ tersebut, hook yang dilepaskan Ahok, benar-benar berhasil memukul telak ‘lawan’. Kalangan dewan yang jadi sparing patner Ahok, boleh jadi akan limbung, terkena pukulan ‘hook’ Ahok. Tapi dengan catatan, KPK bisa membuktikan tudingan Ahok. ‘Ring tinju’ pun makin ramai. Dua petarung sudah berhadap-hadapan. Keduanya sudah melepaskan pukulan andalan masing-masing. DPRD coba memukul Ahok lewat hak angketnya. Ahok pun telah membalas, tak tinggal diam ikut melepaskan pukulan, melapor ke KPK.

Penulis: Agus Supriyatna

Artikel terkait: Saya Demen Ahok, Kronologi Kisruh Ahok vs DPRD DKI Jakarta

Comment di sini