“Saya Demen Ahok”

by
March 2nd, 2015 at 9:58 am

CiriCara.com – Perseteruan Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang biasa disapa Ahok dengan kalangan anggota dewan ibukota, jadi isu yang ramai diperbincangkan. Bukan hanya ramai diberitakan, tapi juga ramai diobrolkan.

ahok

Ahok di kantornya – Ist/Tempo.co

Di media sosial, terutama di jejaring Twittter, Obrolan tentang perseteruan Ahok lawan DPRD jadi topic yang ramai di tweetkan. Di dunia nyata pun, perseteruan Ahok versus DPRD jadi tema obrolan dimana-mana. Bahkan di warung kopi, tema Ahok lawan DPRD Jakarta jadi obrolan hangat warga. Pro kontra terjadi. Saya pun coba merekam itu.

Sabtu siang, 28 Februari 2015, sehabis dzuhur, saya sempatkan mampir ke warung kopi langganan saya yang ada di Jalan Saidi III, Cipete Utara, Jakarta Selatan. Hari itu, saya bersama istri dan anak hendak menginap di rumah mertua yang juga berada di daerah Cipete Utara Jakarta Selatan. Menginap di rumah mertua bisa dikatakan tradisi ‘rutin’ saya dan istri.

Setelah mengantarkan istri dan anak ke rumah mertua, saya pamit sebentar, keluar lagi untuk membeli koran. Rasanya ada yang belum lengkap, hari libur tanpa baca koran. Bisa-bisa saya ketinggalan kereta informasi. Koran Kompas akhirnya yang saya beli. Pertimbangannya simpel, halamannya cukup banyak, sehingga informasi pun lebih lengkap.

Setelah membeli koran, saya mampir sebentar ke warung kopi langganan saya. Warung kopi ini, memang jadi semacam tempat ‘persinggahan’ saya setiap mau berangkat ke medan tempur, meliput mencari berita. Mereguk segelas kopi, rasanya sudah jadi semacam tradisi bagi seorang wartawan seperti saya. Maka, jadilah warung kopi yang dijaga Mang Yanto itu tempat ‘favorit’ saya menikmati segelas kopi. Warung ini juga jadi langganan para supir bajaj untuk mengopi.

Depan, warung kopi, sebuah rumah besar yang jadi kantor sebuah perusahaan production house. Rumah itu, kerap ramai, ketika sedang melakukan casting, entah untuk iklan atau tayangan lain. Maka, jika ‘musim’ casting tiba, mobil banyak berderet di pinggir jalan sekitar rumah. Tapi Sabtu itu, rumah besar tampak sepi. Saya pun langsung memesan segelas kopi hitam manis. Cekatan Mang Yanto melayani. Di bangku kayu, dekat warung acara minum kopi sambil baca koran pun dilakukan.

Salah satu berita utama Kompas edisi Sabtu, 28 Februari 2015, adalah perseteruan Ahok dengan DPRD. Setelah membolak-bolik semua halamannya, koran saya letakan. Sampai kemudian datang Mas Darwis, seorang supir pribadi yang kerap mengantar majikannya ke rumah tempat casting. “Pinjam korannya ya mas” tanyanya kepada saya. Saya pun mengiyakan. Ia pun duduk samping saya, lalu dengan serius membaca halaman demi halaman koran Kompas yang saya bawa. Setelah puas membaca, ia letakan koran. Kemudian berkata.

“Saya demen Ahok,” katanya. Sepertinya berita tentang Ahok jadi perhatian utamanya, sampai keluar pernyataan ia demen Ahok.

Saya yang mendengarnya, tertarik menanggapi.” Kenapa kok demen?” tanya saya.
Mas Darwis pun menjawab. “Saya demen karena dia berani lawan semua anggota DPRD yang memang harus digituin orang-orang yang kayak gitu,” katanya.

Mendengarnya saya hanya manggut-manggut. Tanpa diminta, Mas Darwis kemudian melanjutkan omongannya. Katanya, Ahok harus didukung. Ia pun mendukung penuh langkah Ahok yang melaporkan dugaan adanya anggaran siluman ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mas Darwis pun kemudian mengomentari tentang harga satu unit UPS milyaran rupiah yang kemarin diungkap Ahok. ” Gila apa itu. Itu namanya ngerampok,” katanya.

Karena itulah ia mendukung Ahok. Ia demen cara Ahok hadapi DPRD yang dimatanya bobrok. Menurut dia, anggota DPRD itu sedang mengembalikan modal yang dihabiskan saat pemilihan kemarin. Maka lewat proyek-proyek titipan anggota dewan kembalikan modal. Cara Ahok yang keras dan lugas, ia sangat mendukungnya. Kata dia, seorang pemimpin harus begitu. Tapi sayang, pemimpin yang mau jujur itu tak disukai DPRD, karena tak bisa diajak bekerja sama ‘bancakan’ anggaran. Baginya, hak angket yang digulirkan DPRD Jakarta, adalah cara mendongkel pemimpin yang jujur.

” Kalau seperti ini, saya tak akan lagi milih anggota DPRD Jakarta. Kapok saya milih ternyata kerjanya enggak bener,” kata Mas Darwis. Saya terdiam mendengarnya.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini