Bertahun-tahun Menunggu Eksekusi

by
March 4th, 2015 at 8:29 am

CiriCara.com – Hari Minggu sore, 1 Maret 2015, sebuah pesan masuk ke inbok email saya. Pengirim pesan Mas Supriyadi Widodo Eddyono. Mas Supriyadi adalah Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang konsen menyorot isu-isu hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).

tahanan

Tahanan – Ist

Kali ini dalam pesannya, Mas Supriyadi menyorot tentang eksekusi mati tahap dua yang akan dilaksanakan pihak Kejaksaan Agung. Pelaksanaan eksekusi mati memang tengah jadi kontroversi. Para penggiat HAM memprotesnya. Bahkan, protes juga disuarakan oleh pemimpin pemerintahan negara lain yang warganya akan dieksekusi mati di Indonesia.

Mas Supriyadi sendiri, bersama lembaganya dalam posisi menolak eksekusi hukuman mati. Pesan yang dikirimkan Mas Supriyadi sendiri adalah pernyataan sikap dari ICJR, lembaga yang dipimpinnya. Dalam pesannya, Mas Supriyadi berpendapat, eksekusi hukuman mati seharusnya tidak diperkenankan terhadap seorang narapidana yang berada dalam kondisi penundaan yang cukup lama. Hal itu kata Mas Supriyadi, sesuai dengan norma HAM kontemporer menurut preseden dan pengalaman Komite HAM atau Komite Anti Penyiksaan. Praktek ini hanya akan menghasilkan bentuk tindak penyiksaan secara psikologis, terasa kejam dan tak manusiawi.

Kenapa disebut tak manusiawi, karena menurut Mas Supriyadi, pada umumnya rentang antara vonis hukuman mati dengan eksekusinya berlangsung cukup lama. Mereka yang mengalami proses panjang, berpotensi besar mendapatkan tingkat stress yang tinggi, depresi dan gangguan kejiwaan lainnya. Mas Supriyadi pun kemudian membeberkan daftar nama terpidana mati yang akan menjalani eksekusi pada tahap dua ini.

Pada 2015, dalam daftar Keputusan Presiden atauu Keppres tentang penolakan grasi, terdapat  11 nama terpidana mati yang masuk dalam daftar tunggu eksekusi mati tahap dua. Kesebelas terpidana itu yakni,  Andrew Chan, (Warga Australia) kasus Narkotika dengaan Keppres Nomor 9/G 2015), Syofial alias Iyen bin Azwar (WNI) kasus pembunuhan berencana dengan Keppres 28/G 2014, Mary Jane Fiesta Veloso (Warga Filipina) kasus narkotika dengan Keppres 31/G 2014, Myuran Sukumaran alias Mark (Warga Australia) kasus narkotika dengan Keppres 32/G 2014, Harun bin Ajis (WNI) kasus pembunuhan berencana dengan Keppres 32/G 2014, Sargawi alias Ali bin Sanusi (WNI) kasus pembunuhan berencana dengan Keppres 32/G 2014, Serge Areski Atlaoui (Warga Prancis) kasus narkotika dengan Keppres 35/G 2014, Martin Anderson alias Belo (Warga Ghana) kasus narkotika dengan Keppres 1/G 2015, Zainal Abidin (WNI) kasus narkotika dengan Keppres 2/G 2015, Raheem Agbaje Salami (Warga Spanyol) kasus narkotika dengan Keppres 4/G 2015, Rodrigo Gularte (Warga Brazil) kasus narkotika dengan Keppres 5/G 2015.

Menurut Mas Supriyadi, mayoritas dari mereka telah mengalami penundaan. Raheem Agbaje Salami warga Negara Spanyol misalnya, ia diproses hukum dan langsung divonis hukuman mati. Setelah putusan berkekuatan hukum tetap, dia kemudian mengajukan grasi pada 11 September 2008. Tapi jawaban grasi tersebut baru turun tujuh tahun kemudian keluar yang isinya ditolak. Demikian pula atas Serge Atlaoui, warga Negara Prancis yang divonis mati di Indonesia terkait kasus pabrik ekstasi. Serge ditangkap kepolisian Indonesia pada 2005. Lalu divonis di Pengadilan Negeri Tangerang pada 2006 dan Pengadilan Tinggi Banten 2007 yang menyatakan Atlaoui harus menjalani hukuman penjara seumur hidup. Namun pada 2007, oleh Mahkamah Agung diputus hukuman mati. Serge juga mengalami penundaan  hampir 8 tahun.

Di Indonesia praktek penundaan eksekusi kata Mas Supriyadi, lazim diterapkan. Sebelumnya pada 2004 terdapat 3 terpidana mati yang sudah dieksekusi, yaitu Ayodya Prasad Chaubey (warga India, 65 tahun), dieksekusi di Sumatra Utara pada 5 Agustus 2004 untuk kasus narkoba, Saelow Prasad (India, 62 tahun) di eksekusi untuk kasus yang sama di Sumatra Utara pada 1 Oktober 2004, dan Namsong Sirilak (Thailand, 32 tahun) juga dieksekusi di Sumatra Utara pada 1 Oktober 2004 untuk kasus narkoba.

Pada 2005, kata Mas Supriyadi, eksekusi dilakukan pada Astini (perempuan berusia 50 tahun) dan Turmudi bin Kasturi (pria, 32 tahun) di Jambi pada tanggal 13 Mei 2005. Pada 2006, terpidana mati yang dieksekusi adalah Fabianus Tibo, Dominggus da Silva, dan Marinus Riwu. Mereka dieksekusi di Palu, Sulawesi Tengah. Sementara pada 2007, satu terpidana yakni Ayub Bulubili dieksekusi di Kalimantan Tengah.

Comment di sini