YLBHI Nilai Eksekusi Mati Hukuman Tak Beradab

by
March 5th, 2015 at 10:39 am

CiriCara.com – Kejaksaan Agung, kembali akan melakukan eksekusi terhadap beberapa terpidana hukuman mati. Di antara yang akan dieksekusi adalah dua terpidana asal Australia yang dikenal dengan terpidana “Bali Nine”. Namun sejak digulirkannya proses hukuman mati, pro kontra lahir menyertainya. Bahkan, Perdana Australia dan Presiden Brasil sampai harus ‘membujuk’ Presiden Jokowi, untuk membatalkan eksekusi hukuman mati terhadap warganya.

bali nine

Bali Nine – Ist/ABC/Kompas

Namun, Presiden Jokowi bergeming. Protes dan bujukan dari dua kepala pemerintahan itu tak membuatnya surut. Hukuman mati tetap akan dilaksanakan. Jokowi berkilah, tak ada ampun bagi para terpidana narkoba, yang membuat negeri ini kini dalam bahaya narkotika. Menurut Presiden, 40 anak Indonesia, mati sia-sia karena narkoba setiap harinya, maka tak ada jalan lain untuk memberi efek jera kepada mereka yang terus memasukan barang haram itu ke Indonesia. Hukuman mati, dipercaya kepala negara, bakal memberi efek jera bagi para pengedar narkoba.

Namun bagi para pengggiat Hak Asasi Manusia, praktek hukuman mati, tak akan beri efek jera. Bahkan praktek hukuman mati, adalah bentuk pelanggaran HAM. Negara atas dalil apapun, tak dibenarkan ‘merampas’ nyawa seseorang. Salah satu pihak yang menolak hukuman mati adalah Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI). Pada 10 Februari 2015, saya pernah menerima kiriman pesan via email dari YLBHI yang berisi tentang pernyataan sikap lembaga tersebut menolak keras pelaksanaan hukuman mati di Indonesia.

Dalam pernyataan persnya, Ketua Badan Pengurus YLBHI, Mas Alvon Kurnia Palma menyayangkan, pemerintahan Jokowi masih bersikukuh melanjutkan pelaksanaan hukuman mati. Padahal, pasca dilakukannya hukuman mati terhadap 6 terpidana vonis hukuman mati, Januari kemarin, Indonesia menuai banyak kecaman dari dunia internasional. Tidak hanya dikecam, beberapa negara yang warganya dieksekusi, memprotes keras Indonesia. Belanda misalnya menarik duta besarnya. Brasil dan Australia pun tak kalah keras memprotes Indonesia.

Mas Alvon pun mengingatkan bahwa sekarang ini tercatat ada ratusan WNI di luar negeri yang juga terancam hendak menjalani eksekusi hukuman mati. Sementara Indonesia sendiri akan melakukan eksekusi hukuman mati terhadap beberapa terpidana, dimana banyak juga yang akan dieksekusi adalah warga negara asing. Kata Mas Alvon, ini sangat ironis.

Mas Alvon pun berpendapat, harusnya pemerintahan Jokowi menyadari bahwa dalam konteks hubungan internasional, ada konsekuensi di mana Indonesia tak lagi memiliki legitimasi untuk melindungi, membela TKI atau WNI yang dihukum mati di negara lain.

Comment di sini