Ragam Metode Hukuman Mati di Dunia

by
March 13th, 2015 at 3:02 pm

CiriCara.com – Pada hari Minggu dini, 18 Januari 2015, enam terpidana mati, harus meregang nyawa di hadapan regu tembak yang bertugas mengeksekusi mereka. Sebelum di eksekusi, pemberitaan tentang enam terpidana mati ramai dimana-mana. Bahkan jadi headline berita di beberapa media massa baik cetak maupun elektronik.

mati

Hukuman mati – Ist

Media di Indonesia, berlomba-lomba mengupas dari berbagai sisi eksekusi hukuman mati terhadap enam terpidana tersebut. Publik pun disuguhi banyak cerita tentang eksekusi mati, mulai dari sekelumit kehidupan si terpidana, pendapat keluarga si terpidana, hingga tanggapan dari para pengamat dan aktivis. Tak lupa, suasana tempat yang akan dijadikan lokasi eksekusi disiarkan dengan detil. Terutama oleh stasiun televisi yang seakan berlomba menampilkan gambar ekslusif seputar hukuman mati.

Pro kontra pun terjadi. Namun yang pasti pemerintah, dalam hal ini Kejaksaan Agung bergeming, eksekusi tetap dilakukan di tengah tentangan yang ramai disuarakan. Enam terpidana mati pun, menghembuskan nafasnya di ujung peluru yang ditembakan regu tembak yang ditugaskan mengeksekusi mereka. Enam terpidana mati yang dieksekusi Minggu dini hari, 18 Januari 2015, adalah, Namaona Denis (48 tahun) warga negara Malawi, Marco Archer Cardoso Moreira (52 tahun), warga negara Brasil, Daniel Enemuo (38 tahun) warga negara Nigeria, Ang Kiem Soei alias Kim Ho alias Ance Tahir alias Tommi Wijaya (62 tahun), warga negara Indonesia, Tran Thi Bich Hanh, warga negara Vietnam seorang perempuan (37 tahun), Rani Andriani alias Melisa Aprilia, warga negara Indonesia kelahiran Cianjur seorang perempuan.

Lima terpidana mati dieksekusi di Nusakambangan. Sementara satu terpidana mati, Tran Thi Bich Hanh, dieksekusi di sebuah tempat rahasia di Boyolali, Jawa Tengah. Selanjutnya, pihak Kejaksaan Agung akan kembali mengeksekusi 11 terpidana mati yang grasinya ditolak Presiden Jokowi. Kesebelas terpidana mati yang akan dieksekusi adalah, Andrew Chan, warga Australia, Syofial alias Iyen bin Azwar, warga Indonesia, Mary Jane Fiesta Veloso, warga Filipina, Myuran Sukumaran alias Mark warga Australia, Harun bin Ajis, warga Indonesia, Sargawi alias Ali bin Sanusi, warga Indonesia, Serge Areski Atlaoui, warga Perancis, Martin Anderson alias Belo, warga Ghana, Zainal Abidin, warga Indonesia, Raheem Agbaje Salami warga Cordova dan terakhir Rodrigo Gularte warga Brazil. Indonesia sendiri menerapkan metode hukuman mati dengan cara ditembak. Namun ternyata metode hukuman mati tak hanya dengan cara ditembak. Di beberapa negara yang menerapkan hukuman mati, digunakan metode lain untuk mengeksekusi terpidana mati.

Mengutip sebuah artikel yang dimuat situs www.dw.de, ada beberapa ragam metode hukuman mati yaitu metode tembak, suntikan mati, kursi listrik, gantung dan pancung. Metode hukuman mati dengan cara ditembak, salah satu negara yang menerapkannya adalah Indonesia.

Teknisnya, si terpidana akan berhadapan dengan satu regu tembak yang jadi eksekutor. Mata terpidana akan ditutup dengan kain. Namun kabarnya, ada juga yang ini dieksekusi dengan mata terbuka alias mata tak mau ditutup. Kabarnya lagi, diantara anggota regu tembak, tak ada yang tahu, mana senjata yang dipakainya yang memuat peluru tajam. Untuk Indonesia sendiri, anggota regu tembak diambilkan dari personil kepolisian.

Menurut cerita kawan saya yang pernah meliput pemakaman si terpidana mati, pihak keluarga atau kerabat katanya tak dibolehkan membuka peti jenazah. Entah benar atau tidak. Selain Indonesia, negara lain yang menerapkan metode tembak dalam pelaksanaan hukuman mati adalah Tiongkok dan Korea Utara.

Nah, kalau metode hukuman mati dengan cara disuntik, dipakai oleh beberapa negara, diantaranya Tiongkok, Amerika Serikat dan Vietnam. Menurut artikel yang saya baca di situs www.dw.de, bahan kimia yang dipakai untuk menyuntik si terpidana mati, adalah natrium pentonal atau obat bius, pancuronium bromide, bahan untuk melumpuhkan dan kalium klorida, bahan kimia yang berfungsi untuk menghentikan jantung.

Selain memakai metode suntik, Negeri Paman Obama, Amerika Serikat, memakai metode lain untuk mencabut si terpidana mati. Metode itu adalah metode hukuman memakai kursi listrik. Di film-film Hollywood yang memuat adegan hukuman mati, selalu digambarkan bagaimana hukuman mati pakai kursi listrik. Kabarnya cuma negaranya Paman Obama yang pakai metode itu.

Sedangkan Malaysia, negeri jiran tetangga kita, yang juga menerapkan hukuman mati, memakai metode lain untuk mengakhiri hidup si terpidana. Metode yang digunakan Malaysia, adalah dengan cara di gantung. Selain Malaysia, negara-negara seperti Irak, India, Iran, Jepang dan Kuwait juga memakai metode gantung untuk mengeksekusi si terpidana mati.

Lain halnya dengan Arab Saudi. Negeri petro dollar ini, memakai metode pancung untuk mengeksekusi si terpidana matinya. Pancung adalah kata lain dari penggal. Artinya, si terpidana mati di eksekusi dengan cara dipenggal. Setelah membaca artikel itu, terus terang saya merindik dan bergidik. Bagi saya, hukuman mati, bukan metode tepat untuk menghukum seorang manusia. Karena menurut saya hanya Tuhan yang berhak mencabut nyawa ciptaanNya. Bukan manusia, bukan juga negara.

Penulis: Agus Supriyatna/@rakeyanpalasara

Comment di sini