Pria Ini Batal Nikah Gara-gara Matematika

by
March 16th, 2015 at 1:40 pm

CiriCara.com – Banyak yang suka pelajaran matematika. Tapi yang tak suka pelajaran matematika, mungkin lebih banyak lagi. Saya termasuk orang, ketika sekolah tak terlalu suka mata pelajaran matematika. Tidak heran, bila nilai matematika saya tak begitu kinclong, walau tak begitu jeblok-jeblok amat. Kalau sudah ada pekerjaan rumah mata pelajaran matematika, aduh ampun malasnya bukan main untuk mengerjakan. Apalagi jika sudah tiba waktu ujian dan pas giliran mata pelajaran matematika yang diujikan dada selalu degdegkan.

pernikahan india

Batal Nikah – Ist

Saya lebih suka mata pelajaran ilmu sosial. Orang bilang, mata pelajaran ilmu sosial tak semenakutkan mata pelajaran matematika. Tapi bagi yang suka matematika, mata pelajaran itu katanya mengasyikan. Ya, setiap orang memang punya minat yang tak sama. Namun bagi yang tak suka matematika, mata pelajaran itu seperti momok yang menakutkan. Sampai guru yang mengajarkannya pun langsung di cap guru killer alias guru angker bin menakutkan.

Nah ini ada sebuah kisah menarik bin sangat unik tentang matematika. Tapi kisah menarik bin unik tentang matematika itu bukan datang dari sebuah sekolah. Namun dari sebuah prosesi pernikahan. Peristiwanya pun tidak terjadi di Indonesia, negeri yang saya cintai, tapi terjadi di India, negeri yang terkenal dengan sebutan Bollywood. Ini negeri nun jauh di sana.

Cerita menarik bin unik tentang matematika ini saya dapatkan setelah membaca sebuah berita yang dimuat Kompas.com, Jumat, 13 Maret 2015 pukul 19:25 WIB. Ceritanya begini, di sebuah desa di India, berlangsung sebuah prosesi pernikahan. Kalau di Indonesia, mungkin prosesi itu adalah tahapan ijab kabul, sebuah prosesi sakral, yang akan meresmikan dua insan manusia resmi menjadi suami istri. Di depan penghulu, dua insan itu ikrarkan ijab kabul.

Desa tempat terjadinya kisah pilu itu mengutip pemberitaan Kompas.com, bernama desa Raasoolabad. Menurut Kompas.com, desa Raasoolabad ini, adalah sebuah desa yang terletak di bagian utara India, masuk wilayah Uttar Pradesh.

Ceritanya suatu hari, dilangsungkan sebuah prosesi ikrar ijab kabul di desa tersebut. Dua mempelai,baik itu calon pengantin pria atau wanita hadir. Pun para keluarga dari dua mempelai tersebut. Penghulu yang akan menikahkan dua mempelai juga sudah siap. Nah, sebelum ijab kabul dilangsung, entah apa maksudnya tiba-tiba mendadak si mempelai wanita mengajukan sebuah pertanyaan kepada calon suaminya. Pertanyaan yang dilontarkan si mempelai wanita, berbau matematika, yaitu pertanyaan tentang hitung-hitungan.

Si mempelai wanita ajukan pertanyaan, menanyakan kepada calon suaminya berapa hasil dari penambahan 15 ditambah 6. Entah menganggap enteng, atau terlalu pede, si calon suami dengan sigap menjawab bahwa 15 ditambah 6, hasilnya adalah 17. Mendengar jawaban calon suaminya, mempelai wanita langsung berdiri. Dan dengan lantang tanpa ragu-ragu ia langsung mengumumkan membatalkannya pernikahannya.

Semua yang hadir tentu kaget bukan kepalang. Si penghulu pun terbengong-bengong. Keluarga si mempelai pria, tentu yang paling kaget, terutama si mempelai pria. Si mempelai wanita pun coba dibujuk melanjutkan prosesi ijab kabul. Tapi si mempelai wanita bersikukuh membatalkan pernikahannya. Alasannya, ia menganggap calon suaminya adalah orang yang tak berpindidikan dan bodoh, karena untuk soal penambahan sederhana saja tak bisa menjawabnya. Si mempelai wanita pun langsung pergi. Prosesi ijab kabul bubar jalan.

Tak menyerah, pihak si mempelai pria coba meminta bantuan polisi untuk membujuk si mempelai wanita. Polisi pun akhirnya terlibat coba memediasi dua pihak. Tapi si mempelai wanita bergeming tak mau melanjutkan ijab kabul. Polisi pun menyerah. Pernikahan akhirnya benar-benar gagal total. Membaca itu saya hanya bisa mesem-mesem, sekaligus ikut sedih dengan nasib naas yang menimpa si calon pengantin pria. Bayangkan hanya tak bisa menjawab soal matematika 15 tambah 6, dia gagal naik pelaminan. Gagal pula jadi suami dan mereguk indahnya malam pertama.

Saya pun merenung. Untung wanita yang sekarang jadi istri saya, ketika menjelang ijab kabul tak mengajukan pertanyaan yang aneh-aneh. Ah, beruntungnya hidup di Indonesia, negeri yang saya cintai.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini