Di 2006, Omset Industri Pornografi Capai Rp 976 Trilyun

by
March 18th, 2015 at 3:06 pm

CiriCara.com – Jumat, 6 Maret 2015, iseng-iseng saya buka situs www.bin.go.id. Ini adalah situs resmi Badan Intelijen Negara atau biasa dikenal dengan singkatan BIN. Saat ini, badan telik sandi itu dipimpin oleh Letnan Jenderal Marciano Noorman, sebagai Kepala BIN.

pornografi

Ilustrasi – Ist

Nah disitus BIN itu saya menemukan sebuah artikel yang menurut saya menarik. Judul artikel di situs BIN itu adalah, “Mewaspadai Terpaan Pornografi di Internet”. Di artikel tersebut dinyatakan, beberapa negara mulai lakukan sensor terhadap konten-konten yang dimuat mesin pencari Google dan Yahoo. Salah satu negara yang mulai melakukan penyaringan konten adalah Australia yang mulai melakukan penyaringan pada tahun 2010.

Di tahun itu, Negeri Kanguru, melansir sebuah regulasi tentang sensor situs-situs di internet. Regulasi itu sendiri, adalah perangkat hukum Australia untuk memblokir informasi yang isinya terkait dengan konten kekerasan seksual, obat-obatan terlarang dan pornografi anak. Di sebutkan dalam artikel di situs BIN, pihak Google dan Yahoo mengkritik regulasi yang dikeluarkan Australia. Tapi negara yang sekarang dipimpin Perdana Menteri Tonny Abbot tersebut, tetap memberlakukan regulasi sensornya.

Negara lain yang mengeluarkan kebijakan yang sama adalah Cina. Selain Cina atau Tiongkok, negara lain yang melansir regulasi terhadap konten internet adalah Brasil. Bahkan di negeri Samba, Google pernah kesandung masalah. Namun tulisan saya ini tak hendak menyorot tentang regulasi sensor. Tapi ada sebuah informasi yang menarik dari artikel yang saya baca di situs BIN tersebut. Informasi menarik itu tentang geliat bisnis syahwat atau esek-esek di dunia maya.

Di artikel yang saya baca di situs BIN itu, dikutip hasil penelitian yang dilakukan ahli komputer Jerry Ropalato yang dilansir pada 2007. Penelitian Jerry tersebut bertajuk, “Pornography Statistic,”. Salah satu kesimpulan dari penelitian yang dilakukan Jery, bisnis pornografi mengalami peningkatan tajam. Penelitian Jery mencatatkan geliat bisnis pornografi pada tahun 2006, melonjak dibanding tahun sebelumnya, 2005.

Di artikel itu diuraikan juga hasil penelitian mulai dari jumlah produksi, pengakses, nilai jual dan negara pelanggan. Menurut artikel tersebut, untuk menonton gambar porno, si pengakses mengeluarkan biaya mulai sebesar 3,075 dollar untuk setiap detiknya. Jumlah pengakses gambar porno itu sendiri, menurut penelitian Jerry, tercatat ada 28.258 orang setiap detiknya. Mereka adalah pengguna internet yang mengakses situs-situs porno.

Di artikel tersebut juga diungkapkan, bahwa di negeri Paman Barack Obama, tiap 39 menit lahir satu produk video porno. Nah, nilai bisnis esek-esek menurut artikel di situ BIN, jumlahnya bikin kita ternganga. Di sebutkan dalam artikel tersebut industri porno itu omsetnya mencapai 97.06 milyar dollar atau sekitar Rp 976 trilyun. Itu data tahun 2006. Coba bagaimana dengan sekarang. Mungkin data bisnis esek-esek bikin kita lebih membeliak lagi.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini