Di Era Telepon Pintar, Kabar Burung Gampang Membuat Geger

by
March 20th, 2015 at 8:52 am

CiriCara.com – Isu atau kabar kakek pembawa sarung yang menawarkan sarung jualannya dengan harga murah kepada setiap orang yang bertemu dengannya, lalu sarung tersebut berubah menjadi kain kafan, dan yang membeli sarung itu pun meninggal, tengah menggegerkan Kota Medan dan sekitarnya. Makin menggegerkan lagi, karena itu kemudian gencar diberitakan. Warga di Kota Medan pun jadi resah.

pdkt ke cewek

Handphone – Ist

Pun di Jakarta, isu itu juga mulai ramai diperbincankan. Media telah menjadi salah satu penabuhnya. Namun penabuh pertama dan utama dari semua kehebohan itu adalah benda teknologi bernama handphone atau telepon pintar (smartphone). Ya, handphone adalah penabuh pertama dan utama dari kehebohan isu kakek sarung. Karena lewat handphone pula, pesan berantai sambung menyambung disampaikan hingga membuat banyak orang ada yang percaya, takut, resah dan penasaran. Makin sempurna lagi kehebohan isu kakek sarung, setelah media-media online memberitakannya. Berita tentang itu pun dari Medan sampai ke Jakarta, bahkan mungkin telah ramai pula di bicarakan di pelosok Papua. Kecuali bila daerahnya tak ada sinyal, mungkin kehebohan isu si kakek sarung pencabut nyawa tak terlalu heboh.

Karena banyak diberitakan, via handphone link-link berita ramai dikirimkan, melengkapi broadcast tentang kakek sarung. Saya pun jadi berpikir, di era informasi, di era teknologi, di era handphone dan tablet, orang semakin gampang heboh, serta mudah geger. Berita yang belum tentu sahih, tanpa pikir panjang langsung disebarkan. Tak ada lagi ruang untuk berpikir memilah informasi. Begitu terima broadcast messenger, tanpa dipikir dan diteliti langsung disebarkan. Isu kakek sarung pun, akhirnya sukses menggegerkan tak hanya se-antero Medan, mungkin juga Indonesia.

Padahal, kalau kita sejenak saja berpikir, isu kakek sarung pencabut nyawa pasti akan langsung disimpulkan itu tak masuk akal. Tapi karena kita malas berpikir, kita pun mudah di buat geger. Akhirnya isu hoax pun seakan jadi budaya tersendiri. Dan, kita seperti menikmatinya. Akhirnya ruang publik pun sesak dengan informasi sampah, yang sama sekali tak ada faedahnya sedikit pun selain hanya bikin gaduh suasana. Dan bikin takut yang mempercayainya.

Saya pikir, polisi jangan lantas mendiamkan itu. Tapi harus melacak, siapa yang pertama menyebarkan isu kakek sarung tersebut. Karena sekali lagi, keisengan itu telah membuat ketidaknyamanan. Ya, minimal kalau sudah ketemu pelakunya, umumkan, dan buat dia bikin pernyataan untuk tak mengulangi perbuatan isengnya yang tak lucu tersebut. Saya sendiri, terus terang tak percaya dengan isu kakek bersarung pencabut nyawa. Akal sehat saya menolak itu. Ini sama seperti berita tentang kakek bertelur, kakek Sinin yang sukses menghebohkan Ibukota Jakarta. Bahkan sampai-sampai, kawan saya di kampun berkali-kali menanyakan kebenaran serta perkembangan cerita kakek Sinin yang mengaku dapat bertelur. Ternyata benar, kakek Sinin bohong, hanya mengaku-ngaku bisa bertelur. Setelah itu berita kakek Sinin langsung menghilang dari peredaran. Harusnya itu jadi pelajaran, agar kita sedikit saja sisihkan waktu untuk berpikir, ketika mendapat isu yang menurut logika tak masuk akal. Biarkan akal sehat bekerja. Jangan lantas cepat geger dengan menyebarkannya.

Dan media punya tanggung jawab, memperjelas isu heboh tersebut. Jangan sampai, media ikut menambah geger. Ungkapkan kebenarannya. Bila hoax katakan hoax, bila benar ceritakan dengan runut dan jelas. Sekali lagi jangan sampai dari kakek bertelur, sekarang telurnya pecah jadi kakek bersarung.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini