Ketika Negara Menjelma Jadi ‘Malaikat’ Pencabut Nyawa

by
March 24th, 2015 at 1:24 pm

CiriCara.com – Seorang kawan berseloroh, malaikat Izrail, malaikat yang ditugaskan Allah untuk mencabut nyawa manusia, di Indonesia akan beristirahat sebentar dari tugasnya karena kini kerjanya akan diambil alih sementara oleh pemerintah Indonesia. Seloroh kawan saya ini, mengomentari pelaksanaan hukuman mati terhadap terpidana mati di Indonesia yang memantik pro kontra dan kegaduhan diplomatik dengan negara lain.

hukuman mati

Penolakan hukuman mati – Ist

Ya, Minggu dini hari, 18 Januari 2015, pemerintah lewat Kejaksaan Agung telah melaksanakan eksekusi mati terhadap 6 terpidana mati. Keenam terpidana mati yang dieksekusi regu tembak Minggu subuh hari itu adalah Namaona Denis, warga Malawi, Marco Archer Cardoso Moreira, warga Brasil, Daniel Enemuo, warga Nigeria, Ang Kiem Soei alias Tommi Wijaya, warga Indonesia, Tran Thi Bich Hanh, warga Vietnam, dan yang terakhir, Rani Andriani alias Melisa Aprilia, warga Indonesia. Dari keenam terpidana, satu terpidana dieksekusi di Boyolali, Jawa Tengah. Sisanya menghembus nafas melepas ajal di tembus peluru di Nusakambangan, pulau ‘Alcatraz’ Indonesia.

Kini, 11 terpidana mati, tengah menunggu giliran. Tapi jadwal eksekusi maju mundur. Tidak ada alasan yang jelas, hanya komentar dari beberapa pejabat negara, mulai Presiden hingga Jaksa Agung, bahwa eksekusi akan tetap dilakukan. Namun tak disebutkan, kapan pastinya mereka para terpidana dihadapkan pada regu tembak yang ditugaskan negara ‘mencabut’ nyawa mereka.

Kesebelas terpidana yang menunggu giliran menjemput ajal, adalah Syofial alias Iyen bin Azwar warga Indonesia, Mary Jane Fiesta Veloso, warga Filipina, Myuran Sukumaran alias Mark, warga Australia, Harun bin Ajis, warga Indonesia, Sargawi alias Ali bin Sanusi, warga Indonesia, Serge Areski Atlaoui, warga Perancis, Martin Anderson alias Belo, warga Ghana, Zainal Abidin, warga Indonesia, Raheem Agbaje Salami, warga Cordova, Rodrigo Gularte, warga Brasil dan terakhir Andrew Chan, warga Australia.

Jeirry Sumampow, Sekretaris Eksekutif Diakonia Persekutuan Gereja-gereja Indonesia menegaskan hanya Tuhan yang punya hak mencabut nyawa manusia, CiptaanNya. Negara dengan dalih apapun, tak bisa ‘mengambil alih’ otoritas Tuhan. Karena itu, ia menolak keras pelaksanaan hukuman mati di Indonesia. Baginya, itu praktek hukuman yang tak berperikemanusiaan. Negara, sudah menjelma bak Tuhan, mencabut ajal seorang manusia, berdalih penegakan hukum.

Hendardi Ketua Setara Institute pun satu suara. Menurut Hendardi, tak bisa penegakan hukum lantas jadi instrumen untuk ‘balas dendam’. Ia sepakat, kejahatan punya daya rusak dahsyat terhadap masyarakat. Tapi itu bukan kemudian jadi pembenaran bagi negara mencabut nyawa terpidana narkoba. Tak ada bukti atau korelasi, banyaknya gembong atau pelaku yang ditembak mati, lantas kejahatan narkoba berkurang. Atau dalam kata lain, Hendardi sedang menegaskan bahwa hukuman mati tak berkorelasi dengan efek jera. Karena itu, ia satu barisan dengan Jeirry menolak penerapan hukuman mati yang menurutnya itu melanggar hak asasi manusia.

Tapi bukan berarti penerapan hukuman mati tak ada yang mendukung. Para aktivis yang bergiat di bidang anti narkoba, mendukung penerapan hukuman mati terhadap pelaku kejahatan narkoba. Alasan mereka satu suara dengan dalih pemerintah, bahwa karena narkoba negeri bisa rusak, bahkan bakal kehilangan generasi penerus sejarah. Presiden Jokowi misalnya dalam berbagai kesempatan menyebutkan ada 40 orang lebih yang mati tiap hari karena narkoba di Indonesia. Jadi harus ada efek jera bagi pelakunya. Jokowi pun memilih jalan keras, menolak grasi para pelaku kejahatan narkoba dan memberi jalan bagi kejaksaan melaksanakan eksekusi mati.

Saya hanya tak bisa bayangkan perasaan si terpidana mati yang akan dieksekusi. Bayangkan dia sudah tahu, kapan dia meninggal, dan dengan cara apa dia meninggal. Saya tak bisa bayangkan, betapa stress-nya mereka tak bisa lagi matahari terbit. Karena malaikat pencabut nyawa dihadirkan negara, lewat satu regu tembak,” kata kawan saya sambil matanya menerawang.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini