“Koruptor Kok Diberi Keringanan”

by
March 24th, 2015 at 10:38 am

CiriCara.com – Rencana pemberian remisi bagi terpindana kasus korupsi yang digulirkan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly, ramai diperbincangkan. Pro kontra terjadi. Dari ranah publik, suara penentangan terhadap rencana remisi bagi koruptor yang digagas Menteri Yasonna sangat kencang didengungkan. Pun di dunia maya, penentangan terhadap remisi bagi koruptor tak kalah gaduh.

remisi koruptor

Ist/Rmol

Sementara dari Senayan (DPR RI) justru sebaliknya. Banyak legislator Senayan, ‘mengamini’ rencana Menteri Yasonna alias mendukungnya. Pihak yang menentang rencana remisi bagi koruptor, terutama para aktivis penggiat anti korupsi, memandang nyinyir dukungan ‘Senayan’ terhadap rencana Menteri Yasonna. Menurut mereka, kalangan politisi Senayan wajar mendukung dilonggarkannya pemberian remisi bagi terpidana korupsi, karena DPR itu sendiri adalah lembaga tempat tumbuhsuburnya praktek kongkalikong. Faktanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah banyak menjerat kalangan legislator.

Bagi kalangan dewan, bila perlu KPK dibubarkan, lenyap dari bumi Indonesia. Karena bagi mereka, legislator yang doyan main curang, KPK seperti momok yang menakutkan, yang setiap saat membongkar praktek kotor di parlemen. Begitu kira-kira argumen para penentang remisi bagi koruptor mengomentari dukungan dari sebagian anggota DPR terhadap rencana remisi Menteri Yasonna.

Lalu bagaimanakah suara dari pinggiran, apakah mereka mendukung atau menolak atau bahkan tak peduli? Jumat kemarin, 20 Maret 2015 saya sempat meminta tanggapan kepada Mang Maman Suryaman, seorang penjual rokok dan kopi, sekaligus pemilik kios gerobak di bilangan Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Saat berteduh menunggu hujan deras yang mengguyur Jakarta, Jumat malam itu, saya iseng-iseng membuka obrolan dengan Mang Maman. “Mang kalau koruptor dihukum ringan setujukah?” tanya saya pada Mang Maman.

Mang Maman terlihat mengernyit kening. “Koruptor kok dihukum ringan. Ya jelas enggak setujulah. Udah maling duit rakyat, malah dihukum ringan,” jawabnya.

Saya mendengarnya hanya tersenyum, sudah menebak jawaban yang bakal dilontarkan Mang Maman. Kali ini, saya coba ingin ngetes tentang rencana remisi bagi koruptor yang dilontarkan Menteri Yasonna. Kali saja, Mang Maman tahu.

“Mang, kalau koruptor diberi remisi setuju enggak?”, saya kembali bertanya padanya.

Mang Maman kembali mengernyitkan dahi, tanda dia belum paham apa itu remisi. “Wah diberi remisi itu apa maksudnya. Di hukum ringan? Apa itu remisi?” katanya balik bertanya.

Benar saja dugaan saya, Mang Maman tak ngerti apa itu remisi. Saya pun kemudian menerangkan sebisa saya. Kata saya, remisi itu sama dengan keringanan hukuman. Caranya, si koruptor dapat keringanan lewat pengurangan masa hukuman. Misalnya dari 10 tahun, dikorting jadi 7 tahun atau 5 tahun. Jadi semacam dapat diskon hukuman. Setelah mendengar uraian saya, Mang Maman langsung menyambar menjawab.

“Wah kalau seperti itu saya tidak setuju. Koruptor itu penjahat yang merugikan rakyat, masa hukumannya dikurangi. Harusnya ditambah malah biar kapok. Hartanya disita saja buat rakyat. Koruptor kok diberi keringanan (remisi),” kata Mang Maman berapi-api.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini