Belajar dari Kearifan Suku Baduy dalam Mencegah Banjir

by
April 7th, 2015 at 8:54 am

CiriCara.com – Dua bulan lalu banjir santer jadi topik pembicaraan. Gemanya boleh jadi tidak lagi terdengar namun bukan berarti ancamanannya tak lagi menghadang. Pembangunan dan modernisasi membuat banyak orang lupa akan kearifan lokal yang sebenarnya merupakan solusi berbagai bencana. Kearifan lokal lahir dari proses hidup masyarakat terdahulu yang dekat dengan alam.

Masyarakat Baduy

Masyarakat Baduy – Ist

Salah satu komunitas adat yang masih mempertahankan nilai-nilainya di tengah arus globalisasi ialah Suku Baduy. Masyarakat tersebut berada di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Wilayah permukiman Suku Baduy terletak pada ketinggian 300-600 m di atas permukaan laut yang merupakan bagian dari Pegunungan Keundeng. Penduduk setempat telah beradaptasi dengan dataran berbukit dan bergelombang (kemiringan rata-rata 45%). Proses hidup berdampingan dengan alam melahirkan kearifan lokal dalam mencegah bencana banjir.

- Tidak Merusak Sistem Drainase

Ada larangan adat untuk tidak merusak sistem drainase dalam kearifan lokal Suku Baduy. Hal ini cukup beralasan terutama bagi drainase alami seperti sungai atau anak sungai. Penimbunan sungai dapat menganggu siklus air alami. Perubahan bentuk atau alur sungai terbukti dapat mempercepat limpasan air yang meningkatkan resiko terjadinya banjir.

- Tidak Membuat Irigasi

Suku Baduy hanya menerapkan sistem pertanian padi ladang. Ini karena sistem irigasi merupakan larangan dalam komunitas adat tersebut. Beberapa sistem irigasi memang menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.

Irigasi dapat mengurangi jumlah yang air yang diperlukan pada bagian hilir sungai. Ini menyebabkan terjadinya pendangkalan yang akan menganggu rute pelayaran, habitat ikan, hingga ekosistem laut. Zat-zat kimia pertanian yang terbawa arus irigasi ke badan air lainnya dapat mencemari tanah dan menyebabkan kerusakan tumbuh-tumbuhan.

Irigasi yang bersumber dari air tanah dapat menurunkan permukaan tanah. Hal ini menyebabkan air menggenang sehingga tumbuh-tumbuhan mati. Fenomena ini pernah terjadi di wilayah India, Mesir, Meksiko, China, hingga Australia.

- Tidak Mengubah Bentuk Tanah

Suku Baduy membangun rumah sesuai dengan kondisi permukaan tanah tanpa mengubahnya (meratakan, menggali, dan sebagainya). Jika tanahnya rendah maka tiang rumah dibangun lebih tinggi, begitu juga sebaliknya.  Dengan begitu, air hujan mengalir secara alami. Tindakan ini juga merupakan upaya menjaga struktur tanah agar tidak longsor dan efektif dalam menyerap air.

- Ada Kawasan Larangan dan Perlindungan

Suku Baduy menetapkan wilayah yang tidak boleh dialihfungsikan atau dibangun sama sekali. Wilayah ini khusus menjadi kawasan hutan yang dimaknai sebagai sumber kehidupan. Bagi Suku Baduy, hutan merupakan sumber obat-obatan, makanan, minuman, tempat ritual, pelindung, dan tempat kebersamaan. Masyarakat Baduy sadar akan pentingnya menjaga hutan di sekitar sungai demi keseimbangan siklus air.

- Tidak Menggunakan Bahan Kimia

Suku Baduy tabu menggunakan pupuk, racun, atau bahan kimia lainnya dalam berladang. Untuk mengusir hama, komunitas tersebut menancapkan batang yang berbau khas. Tikus pun tidak mau mendekati batang ini. Menariknya, batang tersebut mengundang capung yang memakan hama padi.  Batang tersebut juga jadi tempat bertengger burung hantu yang memangsa tikus.

Suku Baduy menggunakan pupuk dari bahan-bahan alami. Penyubur tersebut terbuat dari daun-daun yang dicampur dengan abu. Berpadu dengan kepiawaian Suku Baduy dalam memilih benih padi, hasil pertanian masyarakat tersebut pun berkualitas baik. Berasnya memiliki aroma yang lebih enak dan tahan lama.

Selain bahan kimia dalam pertanian, Suku Baduy juga tidak menggunakan bahan perusak tanah dalam kehidupan sehari-hari. Masyakarat tersebut memiliki pamali menggunakan detergen untuk mencuci. Secara ilmiah, detergen dapat merusak tanah dengan membunuh bakteri yang berfungsi untuk menjaga kesuburannya. Detergen juga bisa menyuburkan tumbuhan air tertentu yang dapat menyumbat aliran air di parit atau sungai.

- Sistem Ladang Berpindah

Suku Baduy tidak membuat ladang permanen. Mereka hanya menggunakan lahan untuk bertani selama satu sampai tiga tahun saja. Setelah itu, lahan tersebut dibiarkan menjadi hutan lagi.

Penulis: Ummu Solid

Comment di sini