Biaya Eksekusi Mati Lebih Mahal Ketimbang Hukuman Seumur Hidup

by
April 9th, 2015 at 3:54 pm

CiriCara.com – Di situs www.dw.de, ada sebuah artikel menarik yang ditulis oleh Gadis Arivia, dosen Filsafat dari Universitas Indonesia. Dalam artikelnya, Gadis mengulas tentang fakta-fakta hukuman mati. Banyak fakta yang terungkap, yang mungkin belum banyak diketahui oleh publik. Saya kira, artikel tentang hukuman mati yang ditulis Gadis Arivia menarik diulas kembali, karena penerapan hukuman mati di Indonesia telah menjadi isu publik yang mendapat sorotan. Bahkan menuai pro kontra yang lumayan gaduh.

hukuman mati

Ilustrasi Hukuman Mati – Ist

Gadis Arivia sendiri dalam artikelnya, menegaskan dirinya dalam posisi menolak hukuman mati. Bagi dosen filsafat Universitas Indonesia itu, hukuman mati adalah hukuman tak beradab. Baginya hukuman mati tak dibenarkan secara moral. Menurut Gadis, semangat hukuman mati, adalah balas dendam.

Dia pun kemudian menyorot tentang seorang terpidana mati asal Brasil, Rodrigo Gularte, terpidana mati kasus narkoba yang dikabarkan menderita penyakit kejiwaan paranoid schizophrenic. Menurut Gadis, harusnya ada kekhususan terhadap Rodrigo. Tapi, pemerintah Indonesia tak pedulikan kondisi kejiwaan Rodrigo dan akan tetap mengeksekusi warga Negeri Samba tersebut. Kini Rodrigo masuk dalam daftar 11 terpidana yang eksekusinya terkatung-katung.

Dalam artikelnya itu pula Gadis mengungkap sebuah informasi menarik. Kata Gadis dalam artikelnya, selama ini argumen yang sering disodorkan untuk membenarkan penerapan hukuman mati, bahwa metode hukuman mati itu bisa menghemat biaya, ketimbang harus memanjarakan terpidana seumur hidup. Menurut Gadis, argumen itu keliru. Ia pun kemudian memaparkan hasil sebuah studi, bahwa menghukum mati seorang terpidana ternyata lebih besar ketimbang memenjarakannya seumur hidup.

Kemudian Gadis mengutip pemberitaan tentang itu yang dimuat oleh surat kabar Miami Herald. Dalam beritanya, Miami Herald menuliskan di Florida Amerika Serikat, para pembayar pajak menghabiskan 3,2 juta dollar untuk satu kali eksekusi. Sementara, untuk memenjarakan orang selama 40 tahun, biaya yang dikeluarkan hanya 515 ribu dollar saja.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kata Gadis dalam artikelnya, untuk mengeksekusi satu orang terpidana, pemerintah Indonesia mesti merogoh dana sebanyak 200 juta. Gadis pun kemudian menyitir pemberitaan yang disiarkan stasiun berita Metro TV, bahwa satu orang eksekutor, mendapat honor 1 juta rupiah untuk satu kali eksekusi. Honor 1 juta itu adalah honor untuk eksekusi satu orang.

Dengan geramnya Gadis mengatakan, penerapan hukuman mati pun sudah seperti event saja, ada uang transport, uang honor dan lain-lain. Ia pun kemudian mempertanyakan letak keadilan dari hukuman mati. Kata dia, apakah layak seorang yang membawa 3 kilogram kokain mesti dicabut ajalnya, sementara orang yang merampok uang rakyat hingga trilyunan rupiah hukumannya teramat ringan, bahkan mudah melenggang bebas.

Padahal korupsi adalah kejahatan luar biasa. Menurutnya, seorang koruptor sama kejinya, karena dampaknya juga luar biasa, memiskinkan dan merampas hak rakyat. Tapi hukumannya teramat ringan. Ia pun mendesak, sudah saatnya Indonesia menghentikan praktek hukuman mati.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini