Cara Menangani Perubahaan Kejiwaan Pada Korban Kekerasan Seksual

by
April 16th, 2015 at 2:07 pm

CiriCara.com – Kekerasan seksual begitu marak terjadi. Perempuan dan anak-anak adalah pihak yang rentan terhadap tindak kejahatan ini. Indonesia bahkan memasuki kategori darurat kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.

Pelecehan seksual pada anak / Ist.

Pelecehan seksual pada anak / Ist.

Jumlah kasus kekerasan seksual yang tercatat hingga tahun 2013 ialah 93.960 kasus. Setiap hari, 20 perempuan mengalami kekerasan seksual. Ini berarti, setiap tiga jam, ada 2 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual.

CNN Indonesia menyebutkan, sebanyak 58% kasus kekerasan pada anak ialah kekerasan seksual. Polri mencatat, pada tahun 2014, terdapat 697 kasus kekerasan seksual pada anak. Jumlah korban mencapai 859 orang.

Whitffen dan MacIntosh, dalam buku Rice, Intimate Relationships, Marriages, & Families menemukan bahwa kekerasan seksual pada usia anak-anak berpengaruh pada masa dewasa. Korban kekerasan seksual tersebut mengalami stres emosinal hingga masa dewasa. Korban juga bisa mengalami kesulitan menjalin hubungan pada saat dewasa.

Namun, dampak tersebut bukan berarti tidak bisa ditangani. M. Anwar Fuadi, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Maulana Malik Ibrahim Malang, menuturkan hasil studi terkait Dinamika Psikologi Kekerasan Seksual: Sebuah Studi Fenomenologi, dalam situs http://psikologi.uin-malang.ac.id, seperti yang kami lansir berikut ini.

- Ketakutan, Menyalahkan Diri Sendiri, dan Sulit Berkonsentrasi

Seseorang yang mengalami kekerasan seksul akan merasa ketakutan, menyalahkan diri sendiri, dan sulit berkonsentrasi. Korban memiliki pikiran negatif terhadap dirinya, merasa rendah diri, serta tidak lagi berharga. Perspektif budaya terhadap keperawanan membuat banyak korban merasa kotor. Korban merasa menjadi seseorang yang tidak berdaya.

- Pikiran Negatif Terus Berulang

Jika tidak ditangani oleh lingkungan sekitar, pikiran negatif akan terus berulang sehingga membentuk negative belief. Pikiran ini membuat korban terkekang dalam kondisi yang bersifat parah atau dalam.

- Kesehatan Fisik Terganggu

Pertama, kesehatan fisik korban bisa terganggu karena ada pengabaian terhadap diri sendiri. Kedua, gangguan kesehatan tersebut disebabkan oleh pikiran negatif korban yang terus menumpuk. Korban bisa jadi jarang masuk sekolah dengan alasan sakit.

- Korban Tidak Mampu Mengurangi Tekanan

Korban bisa saja terus menyimpan masalahnya hingga berdampak pada gangguan kesehatan fisik. Hal ini menyebabkan korban menjadi belum mampu mengurangi tekanan. Kalau sudah begini, korban perlu pihak luar untuk mendukungnya.

- Dukungan Sosial

Korban akan mampu mengurangi tekanan jika ada dukungan moral dari berbagai pihak. M. Anwar Fuadi mengungkapkan, saat inilah korban bisa memanipulasi koginisinya (kepercayaan orang terhadap sesuatu dari proses berpikir terhadap sesuatu itu).

Manipulasi kognisi dapat berupa mengalihkan perhatian pada berbagai hal yang menghibur. Korban juga bisa diberi berbagai pelatihan keterampilan seperti menjahit, menulis, merancang, dan sebagainya. Selain itu, korban juga dibantu untuk menerima keadaan dan berpikir positif.

Dukungan dari berbagai pihak dapat membentuk pemikiran korban bahwa kejadian yang dialami tidak seburuk yang ia kira. Dukungan tersebut juga bisa membantu korban berubah jadi sosok yang lebih berani.

Penulis: Ummu Solid

Comment di sini