Hukuman Mati Merupakan Pelanggaran HAM

by
April 20th, 2015 at 8:39 am

CiriCara.com – Hukuman mati, di beberapa negara masih diberlakukan terutama di negara yang menganut syariat Islam dan bagi pelaku kejahatan pembunuhan. Padahal berdasarkan hukum Hak Asasi Manusia (HAM), hukuman mati seharusnya sudah dihapuskan karena melanggar hak untuk hidup. Namun masih banyak negara yang mengabaikan hak ini termasuk Indonesia.

Siti Zaenab

TKI Dihukum Mati – Ist

Pada 2014 lalu, presiden Indonesia, H.Ir. Djoko Widodo memberlakukan hukuman mati terhadap warga negara asing yang menjadi pidana narkoba. Tidak hanya di Indonesia, kasus hukuman mati terhadap warga negara asing juga diberlakukan di beberapa negara. Contohnya Arab Saudi. Di negara ini tercatat 249 warga negara Indonesia yang terancam hukuman mati pada periode 2011-2014. Ancaman hukuman mati tersebut dikarenakan berbagai kasus seperti pembunuhan, penganiayaan, perzinahan, narkoba, dan melakukan tindakan sihir.

Selama ini sudah banyak tenaga kerja Indonesia di berbagai negara yang menghadapi ancaman hukuman mati. Beberapa diantaranya berhasil bebas, namun lebih banyak yang tidak bisa bebas. Bahkan tidak jarang hukuman mati tersebut tidak diketahui oleh pemerintah dan rakyat Indonesia.

Contohnya kasus Siti Zainah yang dieksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi pada Selasa, 14 April 2015 lalu. Berdasarkan informasi, almarhum Siti Zainab memang sudah ditahan sejak 5 Oktober 1999 dikarenakan membunuh majikan perempuannya. Pada 8 Januari 2001 almarhum Siti Zainah dijatuhi hukuman mati dan didampingi oleh kuasa hukum yang ditunjuk pemerintah Indonesia. Saat itu presiden Indonesia juga meminta keringanan hukuman melalui pendekatan pada pemerintah Arab Saudi, agar pemerintah Arab Saudi yakni Raja Arab Saudi memberikan pengampunan.

Keringan hukuman sebetulnya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengampunan dari Raja Arab dan pengampunan dari keluarga. Pada saat vonis dijatuhkan pada 2001, pengadilan menyatakan bahwa pengampunan dapat diberikan oleh anak sang majikan yang waktu itu masih kecil dan harus menunggu sampai si anak akil baliq. Ternyata begitu si anak akil baliq, pengampunan tidak diberikan, meskipun almarhum Siti Zainab melakukan kejahatan sebagai tindakan bela diri karena sering dianiaya oleh majikan perempuannya. Rupanya pengampunan dari raja Arab juga tidak didapatkan, yang artinya  pendekatan pemerintah Indonesia tidak berhasil sama sekali, sehingga informasi mengenai dihukum matinya Siti Zainab baru diketahui baru-baru ini.

Kasus almarhum Siti Zainab bukanlah kasus pertama buruh migran perempuan yang dihukum mati di negara tempatnya bekerja. Sejak Januari – April 2015 ini, tercatat bahwa pemerintah Arab Saudi sudah menghukum mati warga negara asing sebanyak 25 orang.

Setelah Siti Zainab, ternyata ada seorang buruh migran perempuan yang kembali menjadi korban hukuman mati oleh pemerintah Arab Saudi. Buruh migran perempuan bernama Karni ini mendapat vonis hukuman mati sejak 2013 dikarenakan didakwa membunuh anak majikannya yang berumur 4 tahun. Pada 16 April 2015, hukuman dengan cara ditembak dengan senapan dilaksanakan tanpa ada pemberitahuan resmi kepada pihak keluarga dan pemerintah Indonesia. Selama ini upaya meminta pengampunan dari pihak keluarga juga mengalami kebuntuan dikarenakan pihak keluarga enggan membicarakan soal pengampunan.

Karni, Siti Zainab, sebelumnya Darsem dan Ruyati, merupakan contoh-contoh kasus buruh migran perempuan yang mengalami nasib tragis ketika bekerja di negeri orang. Berkali-kali mengalami penganiayaan dan penyiksaan oleh majikan mereka namun negara, dalam hal ini pemerintah Indonesia tidak pernah hadir untuk melindungi hak mereka. Padahal pekerja seperti mereka lah yang sebagian besar meningkatkan ekonomi masyarakat Indonesia, dari penghasilan darah dan keringat mereka.

Penulis: Diyah

Comment di sini