Puasa di Bulan Rajab

by
April 21st, 2015 at 8:43 am

CiriCara.com – Pada Minggu, 19 April ini, umat Islam akan memasuki bulan Rajab. Banyak diantara umat Islam yang melakukan puasa pada bulan ini. Mengapa demikian? Ternyata, bulan Rajab dianggap umat Islam sebagai bulan baik atau bulan suci. Bulan Rajab merupakan salah satu bulan suci selain bulan Ramadhan dan bulan Sya’ban.  Dan bulan Rajab juga disebut bulan haram (artinya mengharamkan untuk perang) selain Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram.

Bulan Rajab

Ist

Anggapan tersebut lahir berdasarkan riwayat sahabat nabi bernama HR At-Thabrani bahwa Rasullullah pernah bersabda bahwa, ”Barangsiapa berpuasa sehari pada bulan Rajab maka laksana ia puasa sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka jahanam. Bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu surga. Dan bila puasa 10 hari maka Allah akan mengabulkan semua permintaannya.”

Ada penafsiran lainnya bahkan sangat mulianya berpuasa di bulan Rajab maka puasa pada bulan Rajab dianggap sama dengan puasa 40 hari dan air minum dari surga.

Di dalam tulisan mengenai kemuliaan bulan Rajab, dikatakan bahwa apabila puasa satu hari maka akan mendapatkan surga yang tertinggi, sedangkan puasa dua hari akan dilipat gandakan pahalanya. Untuk ganjaran bagi yang berpuasa tiga hari yaitu terdapat parit yang panjang untuk menghalang menuju ke neraka. Apabila puasa tujuh hari akan mendapat ganjaran ditutupnya pintu neraka. Dan apabila puasa 16 hari, umat akan dapat melihat wajah Allah dan menjadi orang pertama yang menziarahi Allah dalam surga.

Puasa dalam bulan Rajab akan lebih baik bila diadakan pada permulaan, pertengahan dan akhir bulan. Kemudian juga didalam ajaran agama Islam, ketika orang memuliakan bulan Rajab, maka akan mendapat kemuliaan yang sama dengan seribu kemuliaan di hari kiamat.

Tidak hanya mendapatkan ganjaran atau amalan dengan berpuasa, ketika umat Islam berbuat baik pada bulan ini, umat Islam juga bisa mendapatkan ganjaran yang setimpal. Seperti misalnya bersedekah pada bulan ini, dianggap seperti bersedekah seribu dinar maka akan mendapat balasan berupa seribu amalan yang berada dalam tiap helai bulunya, dinaikkan seribu derajatnya dan dihapuskan seribu kejahatannya.

Namun terdapat pula anggapan bahwa bulan Rajab merupakan bulan mulia atau bulan haram. Adanya pernyataan bahwa puasa pada bulan Rajab akan mendapatkan amalan yang besar, dilatarbelakangi dari kisah nabi Muhammad yang melihat salah satu sahabatnya, Al-Bahily badannya semakin kurus dan ternyata karena menjalankan puasa hampir setiap hari dan hanya makan pada malam hari. Nabi Muhammad atau Rasulullah pun segera menyapanya dengan perkataan,”Mengapa engkau menyiksa dirimu. Puasalah di bulan sabar (Ramadhan) dan puasa sehari setiap bulan.” Jadi anjuran untuk berpuasa di bulan mulia, atau bulan haram merupakan upaya untuk memperbanyak puasa sunnah.

Kebiasan berpuasa di bulan Rajab dan meninggikan puasa di bulan Rajab dianggap tidak tepat apabila menganggap bulan Rajab lebih tinggi daripada bulan Ramadhan. Berpuasa khusus di bulan Rajab juga dianggap tidak tepat. Hal yang tepat yaitu berpuasa tambahan pada bulan-bulan haram, atau bulan baik. Diriwayatkan dari Umar bin Khatab, seorang sahabat Nabi, bahwa beliau memukul telapak tangan beberapa orang yang melakukan puasa Rajab, sampai mereka meletakkan tangannya di makanan. Umar mengatakan, “Apa Rajab? Sesungguhnnya Rajab adalah bulan yang dulu diagungkan masyarakat jahiliyah. Setelah Islam datang, ditinggalkan.”

Riwayat lainnya, dari sahabat Nabi, Abu Bakrah,keluarganya telah membeli bejana untuk wadah air, yang mereka siapkan untuk puasa. Abu Bakrah bertanya: ‘Puasa apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Puasa Rajab’ Abu Bakrah menjawab, ‘Apakah kalian hendak menyamakan Rajab dengan Ramadhan?’ kemudian beliau memecah bejana-bejana itu.

Jadi ada dua pendapat mengenai keutamaan puasa bulan Rajab. Masing-masing pendapat berdasarkan riwayat sahabat nabi, bukan berdasarkan pada dalil khusus tentang keutamaan bulan Rajab. Bahkan beberapa sahabat nabi melarang berpuasa khusus atau sebulan penuh pada bulan Rajab. Tidak ada kepastian yang mutlak mengenai hal ini dikarenakan penafsiran masing-masing. Penafsiran dan pilihan pribadi pula apabila umat Islam memilih berpuasa atau tidak berpuasa.

(Diyah)

Comment di sini