Sindrom Kepala Meledak Sering Disangka Migrain

by
April 21st, 2015 at 11:28 am

CiriCara.com – Pernah mendengar suara denging sampai ledakan? Mungkin nyata, mungkin juga hanya di dalam kepala saja. Banyak orang yang mendengar ledakan semu ini yang disebut sebagai Exploding Head Syndrome (EHS) atau sindrom kepala meledak. Seperti apa sindrom ini?

gangguan kepala

Denging di telinga – Ist

- Denging, Ledakan, dan Melihat Petir

Jenis pendengaran semu pada penderita sindrom kepala meledak berbeda-beda. Ada yang hanya mendengar dengingan, banyak juga yang mendengar ledakan. Beberapa mendengar suara kembang api, pintu dibanting, tembakan senjata, teriakan, raungan, Guntur, petir, gemuruh, dan lain-lain.

Mata penderita juga bisa melihat petir semu atau cahaya silau seperti lampu sorot. Gangguan penglihatan ini dialami oleh 1 dari 10 penderita.

- Mengganggu Tidur

Suara-suara ledakan dan penglihatan semu itu datang menjelang tidur. Hal inilah yang menyebabkan penderitanya tidak dapat beristirahat dengan nyaman. Serangan sindrom ini hanya berlangsung selama beberapa detik. Namun, keras suaranya cukup membuat depresi.

- Seperti Migrain

Sindrom kepala meledak kerap menyebabkan sakit kepala ringan dan sensai panas. Gangguan ini, beserta pendengaran dan penglihatan mirip dengan sakit migrain. Penderita migrain sensitif terhadap suara dan cahaya disertai mual yang berlangsung selama berjam-jam. Gangguan pada penderita sindrom kepala meledak hanya berlangsung beberapa detik saja.

- Menyebabkan Gangguan Lainnya

Penderita yang tidak memahami sindrom ini bisa mengalami gangguan panik, depresi, hingga catastrophizing (pikiran negatif yang berlebihan dalam mengantisipasi atau menanggapi rasa sakit). Penderita bisa saja mengira dirinya mengidap stroke.

Namun, sindrom ini memang menyebabkan gangguan jantung. Serangan EHS meningkatkan denyut jantung menjadi ekstracepat mencapai 100 kali per menit. Kecepatan ini menyebabkan palpiitasi jantung, yaitu detak jantung yang cepat (tidak normal) atau detak jantung yang tidak menentu.

Penderita sindrom kepala meledak bisa begitu depresi. Hal ini dapat merambat pada gangguang jiwa. Nielsen, penderita EHS sejak usia 10 tahun, memiliki solusinya. Studinya dalam bidang psikiater memberikan ketenangan tersendiri dalam menghadapi sindrom ini. Ia kerap berpikir ilmiah terhadap serangan sindrom tersebut dan menyimpulkan, “O, sesuatu terkait kelistrikan terjadi di otak saya.’

- Dialami Tua dan Muda

Awalnya, sindrom ini diketahui hanya menyerang orang tua, berusia di atas 50 tahun, khususnya wanita. Namun, penelitian di Amerika Serikat dalam Journal of Sleep Research membuktikan, sindrom kepala meledak menyerang 18% respondennya yang merupakan mahasiswa. Ada juga laporan penderita yang berusia 10 tahun.

- Penyebab

Sindrom ini belum ada obatnya namun seperti Nielsen, penderita bisa mencoba berdamai dengan dirinya. Beberapa sumber menyebutkan EHS disebabkan oleh gangguan telinga. Sumber lainnya mengungkapkan EHS disebabkan oleh kesulitan otak dalam mematikan fungsinya saat hendak tidur atau menjalankan fungsi saat bangun.

Penulis: Ummu Solid

Comment di sini