Fakta Unik Freddy Budiman

by
April 22nd, 2015 at 10:42 am

CiriCara.com – Freddy Budiman merupakan bandar narkoba jaringan internasional. Siapa sangka, sosok Freddy yang sempat menguasai bisnis narkoba di LP Cipinang dan dikelilingi wanita cantik, dulunya adalah seorang bos copet di Surabaya pada tahun 1990-an. Salah satu anak buahnya adalah Ahmadi.

Freddy Budiman dijatuhi hukuman mati /

Freddy Budiman dijatuhi hukuman mati / MetroTV

Tak lagi berbisnis copet, Freddy hijrah ke Jakarta untuk berbisnis narkoba. Pada 1997, kasusnya terungkap, lalu ia ditahan di LP Cipinang. Pada tahun 2011, Ahmadi bertemu lagi dengan Freddy ketika membesuk temannya di LP Cipinang. Dari pertemuan itu, Ahmadi mulai terlibat dalam bisnis narkoba Freddy.

Freddy menjalankan bisnis haramnya di dalam LP Cipinang. Dia meminta Ahmadi mengantarkan 60 juta untuk mengurus dokumen impor akuarium. Impor itu tentu adalah kamuflase (penyamaran), karena ternyata isinya adalah 1,4 juta butir ekstasi yang dimasukkan ke dalam sejumlah akuarium dalam truk kontainer. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyitanya.

Pada 15 Juli 2013, mantan kekasih model cantik Vanny Rossyane ini divonis mati oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat karena terbukti mengatur peredaran 1.412.476 butir ekstasi dari balik jeruji. Selain Jakarta, ia juga mengedarkan ekstasi ke Bandung, Surabaya, Medan, dan Makasar.

Freddy memiliki pabrik ekstasi di kawasan Mutiara Taman Palem Ruko CBD Blok A2 No 16 Cengkareng, Jakarta Barat yang disamarkan menjadi pabrik garmen (konveksi). Selain itu, jaringan Freddy memiliki beberapa gudang bekas pabrik garmen di Kapuk Kamal Jakarta Barat, rumah di Perum Graha Cikarang, rumah di Perum Central Park Cikarang Utara, rumah di Lebak Bulus Jaksel, dan sebuah rumah di kawasan Jakarta Pusat. Polri telah menyita semua aset yang totalnya mencapai Rp 80 miliar tersebut, termasuk aset jaringan Freddy di Bali.

Dari gudang bekas garmen di Kapuk Kamal Jakarta Barat, tim penyidik Polri menyita 1 unit mesin pembuat ekstasi yang dapat menghasilkan 3 ribu butir ekstasi per jam. Bahan baku ekstasi adalah narkotika jenis CC4 serta 50 ribu butir ekstasi yang kemudian dikemas ulang. Dengan menyita ekstasi tersebut, sekitar 1.500 jiwa dapat terselamatkan.

Freddy dan 11 orang kaki tangannya diancam Pasal 114 junto Pasal 132 UU Narkotika dengan ancaman hukuman pidana mati atau hukuman penjara seumur hidup.

Freddy adalah seorang duda beranak tiga. Jika ia jadi menjalani eksekusi mati, ia mendapatkan jatah 10 wishlist (daftar keinginan) yang akan dikabulkan. Salah satu keinginannya adalah ingin bertemu anak-anak, keluarga, dan pergi jalan-jalan bersama mereka.

Penulis: Khaeriya

Comment di sini