Kartini, Tokoh Pendidikan Perempuan

by
April 22nd, 2015 at 8:51 am

CiriCara.com – “Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan merasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri. – R. A. Kartini

R.A Kartini

R.A Kartini – Ist

Demikian salah satu kutipan dari surat Kartini dalam buku “Habis Gelap terbitlah Terang.” Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, ternyata ada perempuan Jawa bernama Kartini yang sudah memikirkan kemerdekaan bangsanya.

Kartini, seorang perempuan Jawa, dilahirkan di Jepara, di jaman sebelum kemerdekaan Indonesia, sudah memikirkan pendidikan untuk bangsanya dan untuk kaumnya. Sekolah untuk perempuan pun didirikan, dan bukan hanya belajar mengenai cara membuat kue atau merajut tapi juga bahasa Indonesia dan bahasa Belanda, sehingga perempuan juga mampu berbicara dan menulis dalam bahasa Belanda meskipun tidak bersekolah di sekolah Belanda.

Selama ini dalam sejarah Indonesia, Kartini hanya dipandang sebagai tokoh emansipasi perempuan, yang memperjuangkan hak perempuan untuk setara dengan laki-laki. Namun lebih jauh, Kartini-lah merupakan juga tokoh pendidikan perempuan pertama di Indonesia, bahkan dapat dikatakan sebagai tokoh pendidikan Indonesia pertama jauh sebelum lahirnya sekolah Indonesia pertama.

Sekolah perempuan yang diinisiasi Kartini dan saudara perempuannya dilatarbelakangi keprihatinan Kartini melihat perempuan dari masyarakat Jawa kebanyakan, bukan dari golongan bangsawan seperti dirinya yang tidak berpendidikan. Hal yang juga dianggap maju pada masa itu, selain pendirian sekolah untuk rakyat jelata, juga materi yang diberikan di sekolahnya, bukan sekedar materi ‘khas’ perempuan seperti membuat kue, menjahit atau merajut. Tapi juga pelajaran membaca, menulis dan ilmu pengetahuan lainnya.

Sayangnya hidup Raden Ajeng Kartini, nama lengkapnya, tidaklah lama. Beberapa lama setelah melahirkan putera pertama dan satu-satunya dari pernikahannya dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, pada usia 25 tahun, Kartini meninggal. Meskipun begitu, perjuangan Ibu Kartini tidaklah berhenti ketika dia tiada. Teman-teman dan saudara perempuannya pun melanjutkan sekolah perempuannya dan melanjutkan perjuangan untuk kesetaraan perempuan dalam pendidikan.

(Diyah)

Artikel lainnya: Kumpulan Pantun Selamat Hari Kartini

Comment di sini