Kasus Satinah, TKI yang Terancam Dipancung

by
April 22nd, 2015 at 10:59 am

CiriCara.com – Satu lagi buruh migran perempuan asal Dusun Mrunten, Desa Kalisidi, Kabupaten Semarang, Kota Ungaran, Jawa Tengah, menghadapi ancaman hukuman mati. Buruh migran perempuan bernama Satinah Binti Jumadi Ahmad divonis hukuman mati karena dianggap terbukti membunuh majikan perempuannya.

tki satinah

Satinah – Ist

Untuk menyelesaikan kasus Satinah, pemerintah menawarkan ganti rugi kematian maksimal sebesar 12 milyar. Pihak keluarga majikan Satinah di berikan waktu selama dua bulan untuk memikirkan apakah menerima atau menolak ganti rugi kematian maksimal. Apabila ganti rugi tersebut di tolak maka hukuman mati harus dilakukan sekitar 3 April 2015.

Adanya aturan di negara tempat Satinah bekerja yang melegalkan hukuman mati, semakin memberatkan vonis Satinah. Dan pembayaran ganti rugi merupakan jalan satu-satunya untuk membebaskan Satinah sekaligus mendapatkan pengampunan dari keluarga majikannya.

Walaupun pembayaran ganti rugi sebagian besar sudah dilakukan namun ternyata Satinah masih belum bebas dikarenakan keluarga majikannya belum menandatangani surat pernyataan persetujuan permintaan maaf dari pengadilan setempat. Surat ini belum ditandatangani dikarenakan masih ada pihak keluarga yang tersinggung dan belum merasa ikhlas atas meninggalnya majikan perempuan Satinah. Bahkan Satinah sekarang ini menderita stroke dan masih menjalani berbagai sidang keputusan untuk pembebasannya setelah pemerintah Indonesia membayar ganti rugi kematian maksimal seluruhnya.

Awal Satinah dipenjara dan di vonis hukuman mati ketika pada 2007 Satinah bertengkar dengan majikannya bernama Nura Al Garib di dapur pada pagi hari. Pertengkaran itu dipicu oleh hal yang sepele di Indonesia, namun ternyata hal yang besar di tradisi Arab Saudi, yaitu Satinah berbicara dengan anak laki-laki majikannya. Ketika terjadi pertengkaran, kepala Satinah dipukul penggaris dan dibenturkan ke dinding oleh majikannya.

Satinah pun mempertahankan nyawanya dengan mengambil kayu penggilingan roti dan balas memukul majikannya di tengkuk. Nura, majikan Satinah pun pingsan dan dibawa ke rumah sakit namun akhirnya meninggal setelah sempat koma. Setelah kejadian itu, Satinah pun kabur dan menyerahkan diri ke polisi hingga di penjara dan mendapat vonis hukuman mati.

Hukuman mati Satinah seharusnya dilakukan Agustus 2011 yang lalu, namun berhasil ditunda sebanyak lima kali, hingga akhirnya kasus ini kembali mencuat pada 2014 ini. Masyarakat pun menggalang dana untuk pembayaran ganti rugi kematian. Pemerintah juga mengupayakan keringanan pembayaran ganti rugi dan meminta pemaafan dari keluarga serta pemerintah Arab Saudi. Namun Satinah masih belum bebas sampai April 2015 ini.

Kasus Satinah, bukanlah satu-satunya kasus buruh migran yang menghadapi ancaman mati. Saat ini diperkirakan oleh Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) ada sekitar 221 buruh migran asal Indonesia di berbagai negara yang terancam hukuman mati karena dianggap melakukan tindakan kriminal. Dan masih ada kurang lebih 39 buruh migran Indonesia di Arab Saudi yang menghadapi ancaman mati menurut Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia. Jumlah yang masih banyak ketika kita bicara soal perlindungan buruh migran Indonesia.

(Diyah)

Artikel terkait: Kronologi TKI Satinah Dihukum Pancung

Comment di sini