Cara Mencegah Banjir di Tempat Tinggalmu

by
May 4th, 2015 at 11:14 am

CiriCara.com – “Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk, rumah ane kebakaran, gara-gara kompor mleduk, ane jadi gemeteran, wara-wiri keserimpet, rumah ane kebanjiran gara-gara got mampet…” itulah sepenggal lirik lagu Benyamin S tentang banjir Jakarta. Lagu yang populer pada tahun 1960-1970an ini, menggambarkan bahwa banjir Jakarta tidak hanya terjadi baru-baru ini melainkan sudah terjadi di masa lalu. Bahkan banjir Jakarta menurut catatan sejarah sudah terjadi sejak masa kolonial Belanda, ketika Jakarta masih bernama Batavia.

banjir

Foto lucu banjir di Jakarta – Ist

Banjir, suatu peristiwa yang kerap terjadi di Indonesia, terutama di Jakarta. Kontur tanah Jakarta yang lebih rendah dari air laut atau banyaknya pembangunan di ibukota Indonesia yang tidak memiliki konsep ramah lingkungan, menjadi salah satu penyebab banjir semakin meluas di Jakarta.

Namun tahukah kamu kalau kita sebetulnya bisa mencegah bencana banjir terus menerus terjadi. Bagaimana caranya?

Pertama, tentunya kita harus peduli dengan lingkungan kita, seperti jangan membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai dan saluran air di sekitar kita. Sehingga tidak ada sampah yang menyumbat aliran air di saluran air ataupun sungai. Selain itu, sampah juga akan menambah pendangkalan sungai dan pastinya mencemari air sungai. Padahal di dalam sungai terdapat kehidupan juga. Bayangkan apabila sungai tercemar, tentunya kehidupan yang berada didalam sungai juga ikut tercemar dan bisa menyebabkan kematian.

Kedua, tidak hanya rasa peduli yang kita harus punya, melainkan juga rasa memiliki. Rasa memiliki kota Jakarta sebagai tempat tinggal kita, tempat kita menggantungkan hidup kita dan tempat dimana kita membesarkan anak-anak kita dengan rasa nyaman dan aman. Karena itu untuk menciptakan rasa nyaman dan aman, anak-anak kita tidak boleh mengalami bencana banjir. Jadi, cintailah Jakarta seperti kita mencintai pasangan, anak-anak, keluarga kita ataupun hewan peliharaan kita.

Ketiga, apapun pekerjaan kita, ketika kita diminta untuk membantu membangun atau menutup daerah resapan atau merubah daerah tutupan hijau beralih fungsinya, maka lebih baik kita menolaknya dengan memikirkan kehidupan anak-anak kita kelak. Daerah tersebut sudah pasti akan tidak mampu menahan air hujan yang datang, sehingga dapat menyebabkan banjir. Ketika kita dipastikan tidak bisa menghindarinya dan harus menerima atau melakukannya, usahakan kita terlibat dalam pembangunan pembuangan limbahnya dan pembuatan saluran airnya, sehingga dapat dipastikan ketika hujan tiba, kita bisa meminimalisasi kemungkinan air meluap atau terjadinya banjir.

Keempat, jangan membangun rumah, pabrik, sekolah atau bangunan apapun di daerah resapan air atau daerah tutupan hijau seperti di bantaran sungai.

Kelima, meminimalisasi penggunaan barang-barang yang tidak dapat didaur ulang dan tidak dapat terurai dalam jangka waktu yang lama seperti plastik atau kaleng, didalam kehidupan sehari-hari. Dan membiasakan keluarga, pasangan dan anak-anak kita juga melakukan hal yang sama. Misalnya ketika pergi sekolah, ke kantor atau kemanapun, bawalah bekal didalam kotak makan dan minuman di botol minuman yang dipakai berkali-kali. Karena selain ramah lingkungan, pemakaian benda-benda itu juga dapat menghemat pengeluaran.

Keenam, tidak bosan atau segan untuk memprotes atau memperingatkan orang lain di lingkungan kita, baik lingkungan kerja, sekolah ataupun rumah, untuk selalu berperilaku ramah lingkungan. Protes atau peringatan ini juga dapat dilakukan kepada pemerintah yang berwenang, mulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Walikota sampai dengan Gubernur untuk konsisten menjaga lingkungan tempat tinggal kita. Dan jangan lupa untuk menyebarkan informasi terus menerus mengenai kebiasaan yang ramah lingkungan, sehingga bisa meluaskan pengetahuan dan kesadaran warga Jakarta mengenai perlunya berperilaku ramah lingkungan.

Ayo, mulai lakukan ke-enam hal diatas. Mulailah dari sekarang, dari diri kita sendiri, agar banjir lama kelamaan tidak lagi jadi bencana tahunan.

Penulis: Diyah

Comment di sini