Di Korut, Tahanan Dieksekusi dengan Senjata Anti Pesawat

by
May 4th, 2015 at 11:52 am

CiriCara.com – Pasca eksekusi mati yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap 8 terpidana mati yang merupakan gelombang eksekusi tahap dua, reaksi keras muncul mengikutinya. Reaksi keras terutama datang dari negara yang warganya di eksekusi. Salah satu yang bereaksi keras itu adalah, Australia. Negeri berjuluk Negeri Kanguru itu bereaksi keras terhadap langkah pemerintah Indonesia yang tetap mengeksekusi dua warganya yakni Myuran Sukumaran dan Andrew Chan.

jang song thaek

Jang Song Thaek saat disidang – KCNA

Pemerintah Australia di bawah Perdana Menteri Tony Abbot memutuskan menarik Duta Besarnya untuk Indonesia Paul Grigson. Reaksi keras lainnya datang dari pemerintah Brasil. Negeri Samba ini juga memprotes keras eksekusi yang dilakukan terhadap Rodrigo Gularte, salah seorang warga Brasil yang dieksekusi karena kasus narkoba. Yang beruntung adalah Mary Jane, warga Filipina. Terpidana mati kasus narkoba itu urung dieksekusi di detik terakhir sebelum pelaksanaan eksekusi yang dilaksanakan di Nusakambangan, Jawa Tengah. Adanya fakta hukum baru membuat Mary Jane ditangguhkan eksekusinya.

Metode hukuman mati di Indonesia sendiri menggunakan cara eksekusi dengan ditembak. Sebelas orang dari kepolisian yang merupakan para penembak jitu ditugaskan sebagai eksekutor. Tapi, dari 11 senjata eksekutor, kabarnya yang berisi peluru tajam hanya beberapa saja. Jumlah peluru tajam pun kabarnya hanya tiga buah. Dan dari 11 eksekutor, tak satu pun yang tahu senjata yang dipegang siapa yang berisikan peluru tajam.

Sebelum ditembak, para terpidana yang dieksekusi akan ditempatkan dalam sebuah tiang. Di tiang itu, terpidana akan diikat, sebelum akhirnya dieksekusi. Mungkin nampak kejam memang pelaksanaan hukuman mati. Namun, itu sudah jadi keputusan hukum. Dan memang, hukum Indonesia memungkinkan diterapkannya hukuman mati.

Tapi praktek dan pelaksanaan hukuman mati di Indonesia, belum apa-apanya bila dibandingkan dengan cara pemerintah Korea Utara dalam mengeksekusi si terpidana mati. Di negeri yang dipimpin oleh Kim Jong-un itu, cara eksekusi begitu kejam. Bahkan kekejamannya tak pernah terbayangkan.

Bayangkan saja, senjata yang dipakai untuk mengeksekusi si terpidana, bukan senjata biasa. Atau senjata sniper. Tapi senjata yang dipergunakan untuk mengeksekusi adalah senjata militer yang biasa dipakai untuk menembak pesawat tempur atau dikenal dengan senjata artileri. Kisah kejamnya pelaksanaan hukuman mati di Korea Utara ini saya dapatkan dari ulasan sebuah berita yang dimuat situs berita Tempo.co.

Dalam beritanya, Tempo.co menuliskan berdasarkan keterangan intelijen Korea Selatan, pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, baru-baru ini telah mengeksekusi 15 orang tahanan. Mereka terdiri dari beberapa tahanan yang diantaranya ada para pejabat yang dianggap sebagai mata-mata musuh. Informasi tentang digunakannya senjata artileri untuk eksekusi mati, dapat dari analisis rekaman satelit yang memantau sebuah lapangan tembak kecil tempat eksekusi dilaksanakan. Lapangan itu berada di pinggiran kota Pyongyang, Korea Utara. Begitu penggalan berita yang saya baca di situs berita Tempo.co.

Lalu senjata artileri apa yang dipakai? Menurut berita di situs Tempo.co, senjata yang digunakan adalah senjata anti-pesawat ZPU-4. Para tahanan dibariskan, berhadapan dengan senjata berat tersebut. Lalu, setelah itu mereka diberondong dengan senjata anti pesawat ZPU-4 yang memakai peluru berkaliber besar.

Mengutip keterangan Greg Scarlatiou, direktur eksekutif Komite Hak Asasi Manusia di Korea Utara (HRNK) yang beberapa waktu lalu bersama Analisis AllSource Inc, sebuah perusahaan citra satelit yang berbasis di Amerika Serikat pernah merilis gambar-gambar eksekusi di Korea Utara, menyatakan bahwa tubuh manusia yang dihajar oleh senjata anti pesawat akan hancur lebur. Kata dia, tubuh manusia yang dihajar oleh senjata artileri akan hancur jadi bubuk. Sungguh kekejaman yang tak bisa dicerna dengan akal sehat.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini