Sanksi Unik Bagi Siswa Pembolos

by
May 4th, 2015 at 9:43 am

CiriCara.com – Siswa bolos di hari belajar mungkin sudah bukan hal yang aneh. Banyak siswa ‘nakal’ yang berkeliaran saat jam belajar. Bahkan sudah jadi pemandangan biasa, menemui para siswa yang keluyuran di mall-mall atau di ruang publik, padahal itu adalah jam mereka mengikuti pelajaran.

Siswa Bolos Sekolah

Siswa bolos sekolah dihukum – Ist

Selain mall-mall, banyak siswa yang bolos saat jam belajar pergi mojok ke bilik-bilik warung internet. Bilik internet, sepertinya jadi tempat favorit bagi para pelajar pembolos itu menghabiskan waktu. Nanti, ketika tiba waktu pulang sekolah, barulah mereka pulang. Sehingga orang tua pun percaya saja jika mereka memang benar-benar pergi ke sekolah.

Modusnya beragam. Mereka yang sudah berniat membolos, biasanya sudah menyiapkan pakaian pengganti dengan baju bebas. Dengan begitu mereka akan dengan gampang mengelabui pihak-pihak yang biasanya kerap melakukan razia. Baru setelah pihak sekolah mengabari, para orang tua tahu anaknya suka membolos. Pengawasan dari orang tua memang memegang peranan penting untuk mengontrol perilaku sang siswa.

Nah, tentang kisah bolos membolos ini saya dapat cerita menarik dari sebuah berita yang dimuat Koran Republika, edisi Kamis 30 April 2015. Dalam sebuah beritanya, koran yang dimiliki pengusaha sekaligus pemilik klub Inter Milan, Erick Tohir ini mengisahkan tentang operasi razia yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah atau kalau di daerah lain adalah Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)

Dalam sebuah operasi razianya ke bilik-bilik warnet yang ada di Aceh, satuan Satpol PP dan Wilayatul Hisbah mendapati banyak anak sekolah main internet saat jam belajar. Mereka yang kepergok pun langsung ‘digelandang’ ke kantor Satpol PP dan Wilayatul Hisbah setempat.

Nah, di kantor itulah, mereka para siswa yang kedapatan bolos di warnet diberi sanksi. Sanksinya, mereka diharuskan menulis surat Al Fatihah, serta mengaji. Bagi yang tak bisa mengaji, pihak Satpol PP dan Wilayatul Hisbah akan menyurati para orang tua bersangkutan untuk mengajari anaknya sampai bisa mengaji. Bila tak bisa, para siswa yang tak bisa mengaji itu diminta belajar mengaji di kantor Satpol PP dan Wilayatul Hisbah.

Saya kira sanksi tersebut cukup unik. Bahkan itu sanksi edukatif, ketimbang memberi hukuman secara fisik, misalnya dengan jalan bebek, push up, atau dijemur. Lewat sanksi baca tulis Al Qur’an, siswa pembolos setidaknya dapat sekelumit pengetahuan. Sanksi yang mungkin dan layak diikuti daerah lainnya.

Aceh sendiri memang adalah daerah yang menerapkan syariat Islam sebagai salah satu dasar dari berbagai peraturan yang dibuatnya. Hal itu dimungkinkan karena status Aceh sebagai daerah otonomi khusus, sama dengan Papua, Yogyakarta dan Jakarta. Bahkan di Aceh, ada peraturan para kepala desa di provinsi itu wajib bisa mengaji Al Qur’an. Jika tak bisa mengaji, jangan harap bisa jadi kepala desa di provinsi yang terkenal dengan julukan Serambi Mekkah tersebut.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini