Cerita Kelam Prostitusi Artis

by
May 18th, 2015 at 10:41 am

CiriCara.com – Praktek prostitusi sudah ada sejak masa lampau. Dikisahkan pada masa kerajaan-kerajaan, praktek prostitusi sudah dilakukan, terutama bertujuan untuk menyenangkan para tamu kerajaan ataupun sang raja atau penguasa. Sejarah prostitusi merupakan sejarah yang panjang, lahir bersamaan dengan perkembangan manusia.

Prostitusi, Psk, pelacur, wanita penghibur

Ist

Praktek prostitusi pada zaman India kuno, para pekerja seksual yang sebagian besar berasal dari kelas sudra, disebut dengan ‘Kumbhadasi’. Sedangkan pada masa Yunani kuno, para pekerja yang terlibat dalam praktek prostitusi bahkan turut menyumbangkan hasil kerjanya untuk kuil Aphrodite, dewi kesuburan demi mendapatkan anugerah. Sementara di kota Athena, para pekerja seksual komersil sering menjadi perempuan simpanan para pejabat. Di Tiongkok, para penghibur sekaligus berfungsi sebagai pekerja seksual komersial yang berpraktek di rumah bordil. Sedangkan di Jepang, pekerja ini diselubungi dalam pekerjaan yang kelihatan menyenangkan yang disebut ‘Geisha’.

Indonesia juga dikenal sebagai salah satu negara yang melakukan praktek prostitusi. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, praktek prostitusi berkembang dikarenakan banyaknya warga Belanda laki-laki yang masih muda dan belum menginginkan untuk menikah, namun sudah berkembang hasrat seksualnya. Sementara itu, perempuan Belanda juga masih jarang tinggal di Hindia Belanda (nama Indonesia pada masa itu) dikarenakan jauh dan lamanya perjalanan serta memakan biaya yang tidak sedikit. Bahkan untuk mengatasi praktek prostitusi yang berkembang, Gubernur Jendral Belanda, J.P.Coen pernah mengirimkan surat kepada direktur VOC untuk mengirimkan perempuan yang lebih tua ataupun yang muda untuk menikah dengan laki-laki di Hindia Belanda.

Di masa kolonialisme Jepang, banyak perempuan Indonesia sengaja direkrut paksa untuk melayani hasrat seksual tentara Jepang. Para perempuan korban kekerasan seksual ini dikenal dengan Jugun Ianfu. Prostitusi pada masa kemerdekaan berkembang terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Bahkan kemudian di Surabaya terdapat tempat yang terkenal sebagai praktek prostitusi yaitu Gang Dolly. Sedangkan di Jakarta, ada tempat yang namanya Kramat Tunggak, sebagai tempat transaksi hasrat seksual laki-laki.

Praktek prostitusi dikalangan artis berkembang sejalan dengan kebutuhan akan hasrat seksual yang makin kompleks. Pada masa lalu, penyanyi, penari atau profesi lain yang berhubungan dengan dunia hiburan dan seni, sering melakukan pekerjaan rangkap sebagai pekerja seksual komersil. Hal ini sebagian besar terjadi dikarenakan faktor ekonomi. Penghasilan yang sedikit, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti makan, bayar rumah, listrik, sekolah anak atau adik-adik selalu berjumlah lebih besar dari penghasilan yang didapat.

Apalagi jika si perempuan merupakan satu-satunya pencari nafkah keluarga dan tidak memiliki pendidikan yang tinggi. Karena itu menjadi pekerja seksual komersil merupakan cara untuk mendapatkan uang dengan cepat. Ingat lagu “kupu-kupu malam,” nya oma Titiek Puspa? Nah lagu itu merupakan kisah dari seorang penghibur di klab malam yang juga berprofesi sebagai pekerja seksual komersil atau dahulu sering disebut ‘pelacur’.

Prostitusi artis semakin berkembang pada jaman teknologi sudah canggih seperti sekarang ini.  Transaksi seks yang dahulu dilakukan pada saat terjadi pertemuan antara klien dan penjual, sekarang bisa dilakukan melalui telpon atau online, lebih cepat, mudah dan terjamin kerahasiaannya. Tawar menawar harga pun bisa dilakukan dengan cepat dan dapat memilih perempuan yang seperti apa yang ingin dipesan.

Artis yang menjadi pekerja seksual komersil tingkat tinggi semakin banyak, karena alasan tadi. Selain itu, karena kebutuhan ekonomi yang selama ini penghasilan dari artis tidak mencukupi membiayai gaya hidupnya, misalnya untuk perawatan di salon atau menjaga badannya tetap bagus dengan melakukan olahraga di fitness center, maka pekerjaan sebagai pekerja seksual komersil pun dilakukan.

Berdasarkan cerita, ada juga beberapa artis yang bekerja sebagai pekerja seksual komersil dikarenakan sulit mengendalikan hasrat seksualnya atau pasangannya sulit memenuhi kebutuhan seksualnya. Akibatnya sang artis mencari kesenangan di luar rumahnya, dengan orang yang tidak dikenalnya atau baru dikenalnya.

Apapun alasan artis menjadi pekerja seksual komersil atau terlibat dalam praktek prostitusi tetaplah pekerjaan ini beresiko tinggi. Bukan hanya nama baik keluarga menjadi tercoreng atau pengucilan oleh masyarakat tetapi berbagai penyakit mematikan seperti HIV AIDS, hepatitis, kanker dan lain-lain juga mengancam.

(Diyah)

Comment di sini