Sisi Lain Didier Drogba, Sang Penyeru Perdamaian

by
May 29th, 2015 at 1:42 pm

CiriCara.com – Bagi penggemar si kulit bundar, siapa yang tak kenal dengan Didier Drogba. Pasti, banyak penggemar bola, terutama fans klub Chelsea yang mengenal, atau bahkan mengidolakan pemain yang bernama lengkap Didier Yves Drogba Tebily. Ya, pemain kelahiran Abidjan, Pantai Gading, 11 Maret 1978, pernah membela Chelsea, klub papan atas Liga Premier Inggris. Bahkan, meski sempat hengkang dari klub yang bermarkas di London itu, Didier akhirnya kembali lagi ke klub itu setelah melanglang ke klub lain.

Didier Drogba

Drogba akan bawa Pantai Gading ke prestasi terbaik – zimbio.com

Karir profesional Didier sendiri, merentang dari klub ke klub. Dari tahun 1998 sampai 2002, Didier merumput di klub Le Mans. Kemudian pada tahun 2002 sampai 2003, Didier pindah ke klub Guingamp. Penampilan Didier yang apik di Guingamp, memikat klub Marseille untuk mengontraknya. Setelah itu, karir Didier terus melesat. Selepas membela Marseille, Didier berlabuh di Chelsea. Di Chelsea inilah namanya melambung. Ia tercatat sebagai penyerang Chelsea yang haus gol.

Pada 2012-2013, Didier mencoba peruntungan di klub Shanghai Shenhua. Kemudian pindah, ke klub Galatasaray, Turki. Tapi, kemudian Chelsea meminta Didier kembali pulang pada tahun 2014. Jadilah ‘si anak hilang’ itu kembali ke stadion Stamford Bridge markas Chelsea.

Namun saya tak hendak menceritakan tentang seberapa banyak gol yang telah dilesakan Didier Drogba. Saya hendak menceritakan sisi lain dari sang bintang asal Pantai Gading tersebut. Didier, meski ia telah sukses jadi pemain bola papan atas dunia, tapi bukan berarti lupa akan tanah lahirnya. Justru lewat sepakbola, ia memainkan peran lain, tak sekedar pemain yang piawai mencipta gol dan mengolah si kulit bundar.

Didier adalah pejuang penyeru perdamaian. Pada tahun 1999, Pantai Gading bukanlah negara yang aman tenteram. Negara tempat Didier lahir kala itu sedang dicabik perang saudara. Pemberontakan terjadi. Pantai Gading terbelah. Wilayah selatan di kuasai pemberontak. Sementara wilayah utara dikendalikan pemerintah. Tercatat 3000 orang meninggal karena konflik tersebut.

Pada 2005, Pantai Gading pertama kalinya lolos ke kompetisi sepakbola paling akbar sejagat. Ya, di tahun ini, untuk pertama kalinya, Pantai Gading lolos melenggang ke pentas Piala Dunia. Didier adalah salah satu pemain penting yang berhasil meloloskan tim nasional Pantai Gading ke Piala Dunia. Bahkan bisa dikatakan, Didier adalah ‘otak’ utama dari lolosnya Pantai Gading ke Piala Dunia.

Nah, sesaat setelah menekuk Sudah 3-1, ribuan orang di Pantai Gading turun ke jalan merayakan keberhasilan tim nasional mereka merebut satu tiket Piala Dunia. Majalah Tempo, mengulas kisah dramatis di ruang ganti stadion. Kala itu, Didier mengajak para pemain Pantai Gading, berlutut. Dan di bawah sorotan kamera, Didier menyerukan ajakan kepada dua kelompok yang bertikai untuk menghentikan peperangan. Kalimat yang diserukan Didier sangat menyentuh. Tayangan seruan Didier pun ditayangkan berulang-ulang.

Mengutip ulasan Majalah Tempo, tak setelah itu, dua pihak yang berperang, yakni kubu pemerintah dan pemberontak, sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Lalu, ada kisah lain tentang Didier. Pada 2007, Didier kembali bisa membawa Pantai Gading lolos ke Piala Afrika, setelah mengalahkan Madagaskar dengan skor 5-0.

Kala itu, tim nasional Pantai Gading bermain di Bouake Stadium, sebuah stadion yang dikuasai kelompok pemberontak. Di saat bersaman pasukan pemerintah berjaga di luar arena pertandingan. Tapi, tak ada satu pun desing peluru yang keluar ditembakan dua kubu.

Penulis: Agus Supriyatna

Comment di sini